Bagaimana sebuah kisah bisa mengubah hidup banyak orang

chickensoupOleh: Achmanto Mendatu

Sebuah buku berjudul “Chicken Soup for the Soul!

Anda pasti pernah membaca atau sekurang—kurangnya pernah mendengar judul buku itu. Itulah salah satu serial buku yang paling legendaris di era modern ini. Barangkali kepopulerannya hanya kalah dari buku fenomenal karya JK Rowling, yakni “Harry Potter si Penyihir.” Namun jika Harry Potter menceritakan sebuah kisah yang ditata begitu apik, maka dalam “Chicken Soup for the Soul” ada banyak kisah yang juga ditata dengan apik. Keduanya menghibur banyak orang. Jutaan orang di seluruh dunia membacanya dan selalu menantikan edisi berikutnya. Keduanya juga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tapi ada yang sangat berbeda di antara keduanya: kehidupan yang diinspirasikannya.

harrypHarry Potter boleh menjadi serial buku yang paling laris sepanjang sejarah perbukuan dunia (Kelarisannya hanya kalah dari Kitab Suci. Itu pun karena Kitab Suci telah dijual selama ribuan tahun lamanya). Akan tetapi, “Chicken Soup for the Soul” memiliki satu hal yang tidak dimiliki Harry Potter, sehingga membuatnya menjadi serial buku yang jauh lebih berharga dibanding  Harry Potter karya JK Rowling itu, yakni inspirasi yang ditimbulkannya. Membaca Harry Potter hanya membuat pembacanya mengembara ke dunia sihir yang memabukkan dan mengasyikkan. Tapi para pembaca “Chicken Soup for the Soul” mendapatkan lebih dari itu. Mereka mendapatkan inspirasi. Dari ratusan kisah-kisah yang merupakan kompilasi kisah-kisah yang dialami orang dari berbagai belahan dunia itu, mereka memperoleh contoh hidup tentang bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan. Kita menjadi tahu apa yang telah dan belum kita lakukan. Kita menjadi tahu bagaimana kita seharusnya memperbaiki kehidupan yang kita jalani. Kisah-kisah dalam buku itu membuat malu, sedih, tersentak, terperanjat dan mencucurkan air mata. Lantas, jutaan orang berkata, “Aku akan berubah.” Itulah yang terjadi: hidup banyak orang berubah menjadi lebih bermakna.

Saat ini serial “Chicken Soup for the Soul” yang digalang oleh Jack Canfield dan Mark Hansen masih terus diterbitkan. Popularitasnya telah menurun, meskipun demikian pengaruhnya tentu saja abadi bagi pembacanya. Dan buku itu menceritakan sebuah simpulan yang luar biasa, “bahwa sebuah kisah bisa menginspirasi dan mengubah hidup banyak orang.”

Pengaruh kisah-kisah dalam kehidupan memang fundamental. Jauh sebelum “Chicken Soup for the Soul” terbit, miliaran orang telah terinspirasi kisah-kisah orang besar. Kaum Budhist terinspirasi oleh kisah Budha yang meninggalkan kenikmatan dunia demi kebahagiaan yang abadi. Kaum Kristiani terinspirasi kisah Yesus Kristus yang dengan kasihnya berupaya menyembuhkan dunia. Kaum Yahudi diinspirasi oleh kisah Musa. Dan yang yang tak kurang hebatnya adalah kaum Muslim. Di manapun kaum muslim berada, mereka memuja Muhammad sang Nabi sebagai acuan. Seluruh kisahnya diteladani sedemikian rupa, hingga ke kehidupannya yang paling remeh temeh. Diceritakan bagaimana sang Nabi makan, minum, bekerja hingga berdoa. Bahkan diikuti bagaimana Sang Nabi menjadwalkan waktu untuk bercinta, dan perlakuannya kepada istri-istrinya.

Tapi “Chicken Soup for the Soul” menceritakan kisah-kisah orang kecil, orang-orang di sekitar kita, atau malah menceritakan tentang diri kita sendiri. Yang juga penting, “Chicken Soup for the Soul” menceritakan situasi di waktu yang kita alami sekarang. Kisah-kisahnya menjadi terasa begitu dekat, mengena, dan tentu saja lebih menohok jiwa kita. Membaca kisah-kisahnya seolah-olah seperti sedang mengembara ke kehidupan kita sendiri sehingga lebih membuat emosi kita nyata.

MENGAPA ORANG TERTARIK DENGAN SEBUAH KISAH

Manusia belajar dengan cara meniru. Seorang anak akan meniru ibu bapanya dalam berbagai hal. Itu sebabnya akan mudah ditemui kemiripan antara seorang anak dengan ayah atau ibunya. Tidak hanya meniru mereka, seorang anak juga meniru semua orang yang ada di sekitar mereka. Mereka meniru saudara-saudara mereka, orang-orang yang mereka temui, film yang mereka tonton, dan kisah yang diceritakan pada mereka. Boleh di bilang mereka akan meniru apa saja. Semua hal yang ada dan ditangkap oleh panca indera bisa mereka tiru habis-habisan. Itulah yang telah terjadi pada kita. Kita adalah manusia peniru.

mogliPernah dengar cerita Mowgli si anak serigala? Mowgli adalah anak manusia yang sejak bayi dipelihara oleh serigala di dalam hutan. Setelah besar, dia tertangkap oleh penduduk desa. Meskipun manusia, perilakunya benar-benar mirip serigala. Alih-alih berjalan dengan kedua kakinya, Mowgli berlari dan berjalan dengan kaki dan tangannya meniru para serigala. Dia juga sama sekali tidak bisa berbicara. Yang mampu dilakukannya adalah menggeram dan melolong seperti serigala meskipun parau. Ketika melawan, dia tidak memukul tapi mencakar. Pendek kata, perilakunya benar-benar mirip serigala para pengasuhnya. Pada akhirnya Mowgli berusaha diajari seperti manusia lainnya oleh orang-orang desa. Akan tetapi naas, mungkin karena syok dan karena perilaku serigala-nya telah sedemikian mendarah daging, pengubahan perilaku itu berakibat fatal. Mowgli meninggal.

Kisah Mowgli adalah kisah nyata yang menyentak dunia. Serangkaian film, baik film biasa maupun animasi, pernah dibuat dan didedikasikan untuk mengenangnya. Dan ternyata kisah Mowgli bukanlah kisah satu-satunya. Banyak kisah lain yang serupa. Pada umumnya mereka dipelihara oleh serigala.

Apa yang dipelajari dari kisah Mowgli dan kisah-kisah lain yang serupa adalah bahwa manusia tumbuh dan berkembang melalui peniruan. Jika lingkungannya manusia, maka seorang bayi akan tumbuh dengan meniru apa yang ada di lingkungan manusia tersebut. Dia akan berperilaku seperti manusia lainnya di lingkungannya. Jika lingkungannya serigala, seperti yang dialami Mowgli, seorang bayi pun akan tumbuh berkembang seperti serigala. Dia akan berperilaku seperti laiknya serigala, meski dengan keterbatasan tertentu karena secara fisik tetap seorang anak manusia yang jauh berbeda dengan serigala.

Lebih penting dari semuanya, kisah Mowgli menunjukkan fakta bahwa di dalam diri manusia telah ada dorongan alamiah sejak lahir yang membuat manusia menjadi peniru. Dengan kata lain, meniru adalah insting. Konrad Lorentz, seorang peneliti utama di bidang insting, menyebutnya sebagai salah satu insting utama manusia. Tanpa insting itu, manusia tidak akan mampu menjadi seperti manusia lainnya. Kabar baiknya, manusia adalah makhluk peniru yang cerdas. Kita tidak pernah cuma hanya meniru buta, tapi memikirkannya dan mengembangkan apa yang kita tiru dari pendahulu-pendahulu kita. Itu sebabnya umat manusia terus mengembangkan peradaban yang tiada henti-hentinya.

Insting meniru manusia menyebabkannya tertarik dengan segala hal yang relevan dengan dirinya. Kisah-kisah yang mungkin bisa ditiru (dan apa yang tidak bisa) pun menjadi salah satu perhatian utama umat manusia. Tidak mengherankan jika gosip menjadi menu harian semua orang di seluruh dunia. Sebab, dari sebuah gosip kita bisa tahu apa yang bisa ditiru, sebaliknya tahu apa yang harus dihindari. Dengan kata lain, gosip memuaskan insting dasariah kita. Jadi jangan heran jika di seluruh penjuru dunia, sejak dulu kala hingga saat ini, selalu ada para selebritis yang menjadi bahan gosip. Pada masanya selebritis itu adalah penguasa. Lalu kini ditambah dengan para penghibur: artis, aktor, penyanyi, pesulap, dan sebagainya. Ini menjelaskan mengapa acara-acara gosip tidak pernah sepi penonton. Dan setiap acara kumpul-kumpul tidak pernah luput dari bergosip.

Jadi, insting yang telah menyebabkan kita tertarik dengan kisah-kisah. Kita ingin tahu apa yang bisa kita tiru dan apa yang kita harus hindari. Hanya dengan begitu, kita terus mengembangkan kemampuan kita untuk terus bertahan hidup dalam kehidupan ini. Jika kita tidak mampu meniru, maka kita akan terlindas jaman. Kita akan kalah.

Sebuah kisah, entah itu berupa gosip atau bukan, juga menghubungkan kita dengan manusia lainnya. Kita menjadi merasa sebagai satu spesies, merasa sebagai sesama jika kita tahu kisah-kisah yang dialami mereka. Bukankah kita merasa ikut bersedih atas bencana tsunami yang menimpa masyarakat Nias dan Aceh? Kita bisa bersedih karena kita mendapatkan kisah tentang mereka melalui media. Tanpa adanya kisah yang diceritakan, kita tidak akan merasa sedih meskipun penderitaan mereka sangat luar biasa. Sebab kita tidak tahu.

Selain sebagai penghubung, kisah-kisah juga menunjukkan kepada kita di mana posisi kita di antara manusia lainnya. Kita menjadi tahu apa yang telah kita lakukan dan apa yang belum kita lakukan. Sebuah gosip tentang tetangga yang berselingkuh misalnya, membuat kita tahu bahwa hubungan cinta yang kita alami masih lebih baik jika kita memang tidak berselingkuh. Tapi di saat yang sama kita juga tahu bahwa kita bisa mengalami masalah yang sama. Kisah tetangga mengajarkan kita untuk lebih baik dalam menjaga cinta yang kita miliki. Namun bisa juga kita salah jalan, mendengar kisah tetangga yang selingkuh, kita justru semakin ketakutan kehilangan pasangan yang berimbas pada tindakan-tindakan berlebihan untuk mencegah pasangan pergi. Alih-alih menghindari perpisahan, yang terjadi justru yang ditakutkan: pasangan meninggalkan kita karena si dia jengah dengan perilaku kita,  marah, dan bosan.

Jadi, sebuah kisah hanyalah sebuah kisah. Bagaimana memaknainya tergantung pada si penglihat kisah itu.

 

PENGARUH KISAH-KISAH

Kisah 1

Terperangkap

“Namanya Will. Dia seorang yang kaya raya untuk ukuran kita di Indonesia. Usianya muda, masih 31. Kekayaannya puluhan juta dollar. Dia bekerja di salah satu perusahaan raksasa di Wall Street, New York, yang merupakan pusat ekonomi dunia. Penghasilannya setahun lebih dari 5 juta US$. Jika dikurs-kan dengan rupiah, penghasilannya sekitar 55 miliar rupiah setahun. Itu artinya sebulan dia berpenghasilan sekitar 4,5 miliar rupiah. Jika dihitung harian, maka dalam sehari dia menerima sekitar 152 juta rupiah. Kabar bagus untuk para gadis, dia seorang lajang. Mukanya pun rupawan. Oleh rekan-rekannya, dia dijuluki “The Handsome”, alias si tampan. Yang tak kalah penting, Will sangat sopan, seorang gentleman sejati dan sangat baik hati. Pendek kata, dia adalah pria yang paling diincar di seantero wall-street. Para gadis di sana berlomba-lomba menaklukkan hatinya.

Gadis-gadis di Wall-Street sudah tentu gadis-gadis yang luar biasa. Mereka semua pintar, dan lulusan dari Perguruan Tinggi terbaik di dunia. Jika tidak, sudah tentu mereka tidak akan menembus persaingan ketat di Wall-Street. Mereka juga berpenghasilan besar. Serendah-rendahnya pegawai di perusahaan yang bergerak di Wall-Street, penghasilannya masih cukup besar jika dibandingkan penghasilan rata-rata kelas menengah di Amerika Serikat. Jadi, gadis-gadis itu adalah gadis yang luar biasa. Will tahu itu.

Hampir setiap minggu, Will berkencan dengan gadis yang berbeda. Begitu tidur bersama selama beberapa malam, Will akan memutuskan hubungan itu. Tapi itu memang hal yang biasa terjadi di New York. Tidak banyak kegaduhan karenanya. Masalahnya, tidak ada gadis yang bisa menolak jika Will mulai beraksi menebarkan pesonanya. Setiap gadis yang didekatinya takluk. Maklum, para gadis itu memang mengharapkan Will.  Begitulah yang terus terjadi dalam hidup Will. Hingga suatu ketika dia menghilang dari pekerjaannya selama beberapa waktu.

Semua orang di kantornya gempar. Will menghilang. Para gadis yang pernah dikencaninya pun ikut-ikutan berusaha mencarinya. Polisi di minta mencari jejaknya. Rumahnya dalam keadaan rapi ketika Will pergi. Di lacak ke rumah orangtuanya, Will ternyata tidak pernah ke sana. Polisi pun mengeluarkan hipotesa bahwa Will mungkin telah menjadi korban pembunuhan.  Hiruk pikuk tentang hilangnya Will pun mereda. Semua orang kembali ke aktivitasnya masing-masing. Para gadis yang pernah dikencaninya pun telah membuang Will dalam agenda mereka.

Benarkah Will telah menjadi korban pembunuhan? Jane, seorang gadis yang dikencani Will terakhir kali, meragukannya. Dalam hatinya, Jane berharap agar Will selamat dan ada di suatu tempat yang aman saat ini. Meskipun hanya pernah kencan beberapa saat, dia terus menunggu Will. Ketika rumah Will dilelang oleh keluarganya, Jane membelinya dengan syarat agar semua barang-barang Will tetap di tempatnya. Setelah aperteman itu menjadi miliknya, setiap hari dia mampir ke rumah Will untuk membersihkan dan memastikan bahwa semua barang-barang Will masih tetap di tempatnya. Dia percaya bahwa Will akan kembali ke rumah itu kelak, dan dia akan menunggunya.

Tapi Will tidak pernah kembali. Tidak pada tahun itu. Suatu malam, sekitar 1,5 tahun setelah hilangnya Will, setelah Jane membersihkan rumahnya yang merupakan milik Will sebelumnya, dia memperhatikan adanya sesuatu yang ganjil. Ada guratan di lantai di sebelah meja kayu bulat yang ada di dekat perapian. Penasaran, Jane berusaha menggeser meja itu. Ternyata, ada sebuah lubang sekitar 30 cm dalamnya dan berdiameter sekitar setengah meter di lantai yang ditutupi meja itu. Di lantai lubang ada besi yang menjadi alasnya.

Jane mengambil linggis dan mulai berusaha menghancurkan lantai itu. Tapi sia-sia. Dia pun memanggil tukang besi. Ternyata, besi itu dikendalikan oleh tenaga listrik. Dan kabel ke arah sumber listrik tidak tersambung ke aliran listriknya. Alhasil pintu besi lubang itu tidak dapat dibuka. Setelah listrik tersambung, pintu itu berhasil dibuka dengan mudah. Ada sebuah lorong yang menuju entah ke mana. Berbekal lampu senter, Jane menuruni lantai. Sekitar 20 meter kemudian, lorong itu berujung di sebuah kamar yang indah di bawah tanah. Dalam hatinya terbersit harapan akan menemui jejak Will di kamar itu. Sebuah foto ayah dan Ibu Will tergantung di dinding. Will pasti telah membuatnya, pikir Jane.

“Jane, apa yang kamu lakukan di sini?” Sebentuk suara sengau mengagetkan Jane. “Will, kaukah itu?”

Ternyata Will ada di kamar itu. Kondisinya kurus kering dan pucat. Selama 1,5 tahun ternyata dia tidak ke mana-mana. Dia hanya berada di kamar itu, yang sengaja di buat Will sendiri untuk melepaskan diri dari segala kesibukan. Akhirnya terkuaklah semuanya. Pada suatu ketika Will sedang berada di kamar rahasianya. Jane datang. Di cari-cari, Will tidak ada. Jane berpikir bahwa Will mungkin pergi. Oleh karena itu Jane pun pergi. Sebelum pergi, dia mematikan lampu di rumah Will yang saat itu tengah menyala. Dia mencabut kabel-kabel yang masih tersambung dengan sirkuit/steker listrik. Dipastikannya rumah itu aman sebelum dia beranjak.

Rupanya, tindakan Jane mencabut aliran listrik telah menjebak Will di dalam kamar bawah tanahnya selama 1,5 tahun. Saat itu Will tengah berada di kamar bawah tanah dan mencoba pintu lubangnya secara elektris. Tanpa listrik, pintu itu tidak akan pernah terbuka. Will pun tidak bisa menggali karena dinding lubang dan kamar bawah tanahnya telah disemen sangat tebal sedemikian rupa. Lebih-lebih tidak ada alat untuk menggali di dalam sana.

Bagaimana Will makan? Minum tidak kesulitan. Kamar bawah itu telah dialiri air ledeng dari rumahnya yang di atas. Ada WC di dalam sana. Will beruntung dalam soal makanan. Di kamarnya dia menyimpan roti yang sedemikian banyak. Semula Will merencanakan agar roti yang disimpan di kamar bawah tanah cukup untuk sebulan, sebab hanya sebulan sekali dia belanja. Roti itu untuk bekal dirinya di kamar itu karena dia senang tidur dan membaca di bawah sana. Tapi ketika dia tahu bahwa dirinya mungkin terjebak di dalam kamar itu selamanya atau akan keluar tapi dengan peluang sangat kecil, dia memilih yang terakhir. “Aku ingin ditemukan. Aku ingin hidup” katanya.  Jadi ia menghemat roti itu selama mungkin. Hasilnya, satu setengah tahun dia bisa bertahan dengan roti yang semula dicadangkannya hanya untuk sebulan. Saat ditemukan Jane, roti terakhirnya habis 2 hari yang lalu. Will sendiri sudah tidak berharap akan ada yang menemukannya. Dia pasrah. Tapi mukjizat terjadi. “Tuhan mengirimkan Jane,” ujar Will.

Jane sangat merasa bersalah atas kejadian itu. Dengan inisiatif sendiri dia menyerahkan diri ke polisi untuk ditangkap. “Dia telah menebusnya. Bukankah dia yang menemukanku? Bukankah dia yang membeli rumahku dan memastikan rumahku tetap seperti keadaan semula. Jika bukan karena kejadian ini, aku tidak akan pernah tahu siapa yang benar-benar mencintaiku” ujar Will kepada petugas polisi ketika dia datang untuk membebaskan Jane, “Jadi, tidak ada alasan bagimu untuk merasa bersalah” katanya kepada Jane.

Hal-hal kecil yang kita lakukan kadang membuat perubahan yang sedemikian besar pada orang lain. Tindakan Jane yang mencabut steker listrik telah memerangkap Will di kamar bawah tanahnya. Tapi, keyakinan Jane bahwa Will masih ada juga telah mendorongnya secara tidak sadar untuk menyelamatkan Will. Dunia kadang bekerja dalam proses-proses yang tidak sepenuhnya dapat kita mengerti.

Kisah 2

Tangis untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah desa pegunungan yang terpencil. Orangtuaku petani. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap langit. Aku mempunyai seorang adik laki-laki, yang 3 tahun usianya lebih muda dari diriku, yang mencintaiku lebih dari aku mencintainya.

Suatu ketika aku menginginkan sarung tangan seperti gadis-gadis lain yang memilikinya juga. Untuk itu, aku mengambil uang ayahku di lacinya. Ayahku segera menyadari kehilangan. Beliau membuat kami, aku dan adikku berlutut di depan tembok, dengan bilah bamboo di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” hardik ayahku. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi dia berkata, “Baiklah jika begitu kalian berdua layak dipukul.”

Ayah mengangkat bilah bambu tinggi-tinggi dan siap memukulkannya kepada kami. Tiba-tiba adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya.”

Bilah bambu itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga dia mencambuki adikku sampai tersengal-sengal kehabisan nafas. Sesudahnya Ayah duduk di kursi batu kamu dan berkata dengan marah, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang. Hal apa lagi yang akan kamu lakukan kelak? Kamu layak dipukul sampai mati. Kamu pencuri tidak tahu malu.”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Punggungnya penuh luka. Tapi dia tidak meneteskan air mata sedikit pun. Di tengah malam itu, aku menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku yang tidak memiliki keberanian untuk mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tetapi insiden itu masih terasa seperti kemarin. Aku tidak akan pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Saat itu dia berusia 8 dan aku 11.

Ketika adikku menyelesaikan SMP, dia diterima di SMA di kota kabupaten. Saat yang sama aku diterima masuk Universitas di kota Provinsi. Suatu malam, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya berkata berat, “Kedua anak kita begitu baik prestasinya.” Saat yang sama Ibu terlihat menghapus air mata yang mengalir dan menghela nafa. “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga adikku keluar menemui ayah dan berkata, “Ayah, aku tidak mau sekolah lagi. Aku telah cukup dengan membaca buku.”

Ayah mengayunkan tangannya ke wajah adikku, menamparnya. “Mengapa kamu mempunyai jiwa yang keparat lemahnya? Bahkan jika aku harus mengemis di jalanan, aku akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai.” Dan kemudian ia mengetuk setiap rumah di desa itu untuk meminjam uang.

Kuulurkan tanganku selembut mungkin ke wajah adikku yang membengkak, dan kubilang, “Anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan seperti ini.” Aku, sebaliknya telah memutuskan untuk tidak meneruskan ke Universitas.

Siapa kira keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di bantalku: “Kak, masuk ke Universitas tidak mudah. Aku akan cari kerja dan mengirimimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku menghilang. Tahun itu, adikku berusia 16. Aku 19.

Dengan uang yang dipinjam ayahku dari seluruh orang desa dan uang hasil adikku dari mengangkut semen di punggungnya di sebuah perusahaan konstruksi, aku akhirnya sampai di tahun ke tiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamar kosku ketika seorang teman masuk dan memberi tahu, “Ada penduduk desa menunggumu di luar.”

Mengapa ada penduduk desa yang mencariku? Aku berjalan keluar. Kulihat adikku dari jauh. Seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. “Mengapa kamu tidak bilang ke temanku kalau kamu adikku?” tanyaku.

Tersenyum, dia menjawab, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa begitu trenyuh dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari tubuh adikku. “Aku tidak peduli omongan siapa pun!  Kamu adikku bagaimanapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu,” kataku tercekat-cekat.

Dari sakunya dia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikan kepadaku, dan menjelaskan, “Kulihat semua gadis kota memakainya. Jadi, kupikir kamu pun harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lagi. Aku menarik adikku dalam pelukanku dan menangis, dan menangis.  Tahun itu, dia berusia 19. Aku 22.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti. Di mana-mana kelihatan bersih tidak seperti sebelumnya. Setelah pacarku pulang, aku menari bak gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adikmu, yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu lihat luka ditangannya? Itu terluka akibat memasang kaca jendela baru itu.”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, ribuan jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan antiseptik ke lukanya dan membalutnya. “Apakah itu sakit?” tanyaku. Dia menggelengkan kepala.

“Tidak. Tidak sakit. Ini karena… Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan di kakiku. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja, dan..” Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata deras mengalir ke wajahku. Saat itu dia 23. Aku 26.

Setelah menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka bilang, sekali meninggalkan desa, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, “Kak, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga ayah dan ibu disini.”

Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku menjadi manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia berkeras memulai pekerjaan sebagai tukang reparasi.

Suatu hari, ketika adikku berada di atas tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, dia terkena kejutan listrik dan harus masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak harus melakukan hal berbahaya yang berakibat seperti ini. Lihat kamu sekarang. Lukamu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang serius di wajahnya, dia membela keputusannya, “Pikirkan kakak ipar. Dia baru saja menjadi direktur. Dan aku tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer, cerita macam apa yang bakal berhembus?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan keluar kata-kataku terpatah-patah, “Tapi kamu kurang pendidikan karena aku.”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” kata adikku sembari menggenggam tanganku. Tahun itu, dia berusia 26. Aku 29.

Adikku berusia 30 tahun ketika dia menikahi seorang gadis petani dari desa itu. Pada acara pernikahannya, pembawa acara bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Bahkan tanpa berpikir dia menjawab, “Kakakku!”

Dia melanjutkan dengan sebuah cerita yang bahkan tak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah saat SD yang ada di desa lain, saya dan kakak harus berjalan 2 jam untuk pergi ke sekolah. Suatu hari saya kehilangan satu sarung tangan. Kakak saya memberikan satu kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan selama itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetar karena cuaca yang begitu dinginnya, sampai-sampai dia tidak bisa memegang sumpitnya. Sejak hari itu saya bersumpah, selama saya masih hidup saya akan menjaga kakak dan akan selalu baik padanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu dan semua orang memalingkan perhatian padaku.

Bibirku terasa kelu. Kata-kata begitu susah kuucapkan, “Dalam hidupku, orang yang paling dalam terima kasihku adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti aliran sungai.

 

Anda terharu dengan kisah di atas? Kisah “Tangis untuk Adikku” benar-benar membuat saya menangis. Tapi kisah “Terperangkap” tidak. Nah, apa yang Anda rasakan?

Jika dua kisah di atas dibandingkan, sangat mencolok bedanya. Kisah pertama sebuah kisah yang kurang memiliki arti apa-apa. Dari 5 orang yang ditanya komentarnya, mereka semua menjawab bahwa kisah itu kisah yang buruk, meskipun itu kisah nyata. Benar bahwa kisah itu kisah cinta. Tapi cara kisah itu diceritakan kurang terlalu bagus. Fakta-fakta yang diceritakan tampak tidak relevan dengan pesan yang disampaikan. Isi ceritanya pun kurang menggugah hati. Jadi jelas, bukan merupakan kisah yang akan banyak memberikan inspirasi.

Tapi kisah kedua adalah kisah yang sangat inspirasional. Saya harus jujur, pertama kali membacanya, saya menangis. Dua kali membacanya, saya tetap menangis. Kali ketiga membacanya, air mata tetap tak dapat saya tahan. Kisahnya begitu menyentuh hati. Sepertinya kisah itu langsung menghujam ke lubuk hati kita yang paling dalam. Sebuah pengorbanan luar biasa dari seorang yang lemah adalah kisah yang tak akan pernah terlupakan. Dari 5 orang yang ditanya komentarnya, mereka senada bilang “Kisah yang sangat menyentuh.”  Dua dari 5 orang itu menitikkan air mata, dan yang satu sembab.

Begitulah kisah. Ada yang sangat menggugah, namun ada yang tidak berarti apa-apa. Bahkan ada juga yang menimbulkan kebencian. Setiap kisah memiliki arti bagi yang mengetahuinya, namun hanya kisah yang menggugah hati yang akan menginspirasi kehidupan. Kisah-kisah seperti itulah yang akan terus dikenang.

Pengaruh sebuah kisah yang inspirasional bisa sangat jauh di luar batas-batas wilayah. Kisah perjuangan hidup seorang anak di pelosok pedesaan Cina bisa bergaung dan mengubah hidup banyak orang di seluruh belahan dunia. Kisah seorang cacat yang berjuang dalam olimpiade bisa mengubah mereka yang cacat dan yang bukan. Begitu sebuah kisah dituturkan, kita tidak pernah tahu bagaimana dampaknya bagi kehidupan banyak orang.

 

frogparadoxMENGAPA SEBUAH KISAH BISA MENGUBAH HIDUP

Tahukah Anda dengan paradok katak? Ketika katak dimasukkan ke dalam sebuah panci terbuka yang diisi air, dan secara perlahan airnya dipanaskan, maka sang katak tidak akan pernah melompat keluar dari dalam panci. Perlahan-lahan si katak akan terebus air yang mendidih. Akan tetapi jika air di dalam panci telah mendidih dan katak dimasukkan ke dalamnya, maka katak akan langsung melompat keluar. Dia tidak akan menjadi katak rebus.

Familiar dengan perilaku katak? Begitu jugalah perilaku kita. Ketika sebuah bahaya pelan-pelan datangnya dalam hidup kita, maka biasanya kita tidak menyadarinya. Kita biarkan diri kita untuk semakin jauh memasuki bahaya sampai kita sulit diselamatkan. Namun jika ada sebuah bahaya yang datang tiba-tiba, maka kita menjadi jauh lebih waspada dan bersiap mengatasinya. Bahaya rokok adalah contoh terbaik. Kita tahu bahwa merokok berbahaya. Tapi karena efeknya sedikit demi sedikit, maka kita terus menerus membiarkan paru-paru kita semakin hancur tanpa kita sadari. Kita selalu berkilah bahwa kita masih sehat. Tahu-tahu, paru-paru sudah rusak dan kita harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

Dalam kehidupan, kita sering tidak menyadari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sampai kesalahan-kesalahan itu telah sedemikian berbahaya. Kita terus menerus memperlakukan pasangan kita dengan tidak benar, sampai kita tersadar ketika pasangan kita pergi meninggalkan kita. Kita terus menerus berbuat tidak adil pada orang-orang sekitar kita, sampai kita menjadi sendirian tanpa teman yang mau memberikan pertolongan saat kita membutuhkannya. Kita terus menerus mengabaikan perhatian orang-orang terdekat kita, sampai kita telah kehilangan mereka. Kitalah sang katak. Terkadang, kita butuh air mendidih yang harus disiramkan agar kita terkejut dan membuat perubahan mendadak.

Pada dasarnya kehidupan tidak pernah berjalan lurus. Perkembangan dan kemajuan tidak pernah seperti perjalanan kereta api yang melaju kencang ke depan dengan kecepatan tetap. Kemajuan lebih seperti perjalanan naik bus kota, yang bisa tiba-tiba mendadak berhenti, mendadak melaju ke depan sehingga kita terhempas di kursi, melesat lalu pelan dan berhenti, kemudian tiba-tiba gas ditarik kembali dan langsung melesat cepat. Kecepatannya selalu berubah-ubah.

Kapan saatnya kita tiba-tiba melesat? Itulah saat ketika sebuah inspirasi datang, dan kemudian mengubah hidup kita. Dengan inspirasi itu, kita bisa dengan cepat mengubah berbagai hal yang memperkaya kehidupan kita. Di sinilah kisah-kisah yang menginspirasi mengambil peranan dalam kehidupan manusia. Kisah-kisah itu melecut kemajuan kehidupan kita: seperti ketika seorang penjahat yang insaf total setelah membaca berita derita seorang anak yang berjuang melawan kemiskinan, seperti ketika seorang pemimpin yang hanya tahu memeras bawahan tiba-tiba menjadi sangat peduli dengan karyawannya setelah menonton film tentang perbudakan, seperti saat seorang anak memutuskan untuk meminta maaf pada ibunya karena telah membencinya usai menyaksikan seorang ibu yang dimarahi oleh anaknya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kisah-kisah inspirasi berfungsi seperti air panas yang menyiram tubuh kita. Alhasil karena tersengat panas, kita akan terkejut dan melompat. Siraman-siraman air panas itulah yang sesungguhnya telah memberi makna buat kehidupan kita. Itu kenapa kita akan belajar jauh lebih banyak dari kegagalan-kegagalan yang kita alami, karena kegagalan adalah air panas untuk hidup kita. Kita menjadi terkejut dengan kegagalan karena kita tak siap dengan itu. Lantas kita pun terlecut ke depan. Mereka-mereka yang berhasil adalah mereka-mereka yang pernah gagal, tapi mereka tidak menyerah. Mereka yang selalu sukses biasanya tidak akan pernah benar-benar sesukses mereka yang pernah gagal. Maklum, mereka yang selalu sukses tidak pernah tersiram air panas yang membuat mereka membuat lompatan-lompatan besar dalam hidup mereka. Faktanya, semua orang yang sukses pasti pernah tersiram air panas dalam hidupnya.

Air panas dalam kehidupan kita sangat beragam. Bagi sebagian orang air panas itu adalah kegagalan, dipecat, bangkrut, terlilit utang, rugi besar dan semacamnya. Bagi yang lain air panas itu ditinggalkan pasangan, dibenci tetangga, tidak ada yang menolong ketika membutuhkan, anak kecelakaan, anak cacat, yang terkasih meninggal, diri mengalami kelumpuhan, dan sebagainya, termasuk mengetahui kisah-kisah orang lain yang tersiram air panas itu. Semuanya adalah kisah-kisah yang bisa menginspirasi kehidupan dan melecut kekayaan kehidupan kita semua.

Komentar
  • dessy ismaria:

    waw…saya sampai speechless

  • widhi:

    taman berantai berdua ke syurga, cerita duch sedihnya

  • emi:

    ketika saya membaca kisah tangis untuk adiku saya benar-benar tersiksa mehan air mata saya,bayangin didepan saya banyak siswa yang saat itu sedang memasang instalasi lampu ruang kelas kami,apa jadinya jika mereka melihat saya menangis tanpa sebab,ahirnya karena tidak sanggup menahan air mata yang sudah berada disudut mata terpaksa saya menuju keruangan saya disana saya biarkan air mata saya mengalir tanpa hambatan

Beri Komentar