Emosi dan kehidupan sosial
Emosi sebagai barometer hubungan sosial
Apa yang Anda rasakan saat berhubungan dengan seseorang, itulah barometer Anda dalam menilai apakah Anda cukup dekat orang itu atau tidak. Anda membedakan orang lain sebagai teman sejati, teman dekat, teman biasa, teman jauh, berdasarkan perasaan yang Anda alami. Anda akan memiliki perasaan paling dekat terhadap teman sejati Anda. Sedangkan teman jauh adalah yang terendah derajat rasa kedekatannya.
Bayangkan jika Anda selalu memiliki rasa curiga terhadap seseorang. Anda kurang mempercayainya. Maka tentu saja hubungan Anda dengan orang itu tidak akan menjadi dekat dan intim. Pun jika Anda merasakan ketidakpercayaan. Anda tentu tidak akan bisa membangun hubungan lebih dekat. Sebaliknya jika Anda mempercayai seseorang, maka Anda sangat mungkin akan membangun hubungan lebih dekat dengannya.
Emosi yang dirasakan pada awal jumpa juga menjadi barometer apakah hubungan akan berlanjut atau tidak. Misalnya jika pada saat bertemu seseorang Anda merasakan emosi senang, gembira, nyaman, dan damai, maka Anda boleh jadi akan berusaha menemuinya lagi. Sebaliknya jika Anda merasa muak dan jijik, boleh jadi Anda tidak akan menemuinya lagi.
Emosi dan moralitas
Emosi malu merupakan penjaga nilai moral. Adanya rasa malu melanggar nilai-nilai moral pada anggota masyarakat akan menjamin tetap tegaknya nilai-nilai moral itu. Begitu juga perasaan bersalah berperan dalam menjaga agar suatu nilai moral tertentu tidak dilanggar sekaligus melakukan kompensasi jika dilanggar. Misalnya, Anda menempeleng anak kecil yang telah berbuat ribut. Nilai moral menganggap tindakan Anda sebagai pelanggaran. Anda menyadarinya dan lalu muncul rasa bersalah. Setelah munculnya rasa bersalah, boleh jadi Anda akan berbuat meminta maaf dan melakukan tindakan lain yang menyenangkan si anak sebagai kompensasi rasa bersalah.
Kita tahu bahwa emosi sering bersifat spontan dan tanpa diniatkan dahulu. Pengalaman mengalami emosi berlangsung begitu saja. Tiba-tiba saja marah, kagum atau sedih. Saat Anda berhadapan dengan jurang, tiba-tiba saja Anda langsung gemetar takut. Namun demikian, sebagian pengungkapan ekspresi emosi merupakan sesuatu yang diatur oleh moral. Misalnya Anda jatuh cinta secara romantik pada saudara kandung. Secara moral hal itu tidak dibenarkan. Oleh karenanya emosi cinta itu tidak akan diungkapkan. Lalu misalnya Anda marah kepada anak Anda. Adalah tidak bermoral jika Anda memukulnya. Oleh sebab itu Anda tidak melakukannya.
Pada saat seseorang melakukan tindakan sadar untuk mengatur emosi yang terjadi secara spontan, maka pengaturan itu boleh jadi dipandu oleh nilai moral. Misalnya Anda berupaya menurunkan tingkat kemarahan, sebab marah-marah sembarang tempat dan sembarang situasi, dan juga pada sembarang orang, bukanlah sesuatu yang dianggap baik. Begitu juga misalnya rasa curiga berlebihan terhadap orang lain dinilai tidak bermoral, yang oleh karenanya maka Anda berusaha menurunkan kecurigaan Anda. Anda akan lebih mengontrol rasa curiga Anda.
Emosi yang kita alami juga memberikan informasi pada kita nilai penting moralitas tertentu. Adanya emosi membuat kita sensitif terhadap situasi yang relevan dengan moralitas tertentu atau malah kadang membuat solusi atas dilema moral yang dialami. Pada saat Anda menyaksikan seseorang yang melakukan pelanggaran moral, misalnya ayah memerkosa anak gadis sendiri, maka emosi tidak suka Anda timbul begitu besar. Itu artinya emosi memberikan Anda suatu panduan bahwa peristiwa itu sangat melanggar moral.
Pernahkah Anda merasa bangga memberikan bantuan? Misalnya Anda merasa bangga memberikan sumbangan dalam jumlah besar ke sebuah Panti Asuhan. Mengapa bangga itu Anda alami? Boleh jadi adalah karena Anda telah melakukan sesuatu yang sangat dianjurkan oleh moral. Menyumbang pada yang menderita susah sangat dihargai dalam moralitas di masyarakat. Sebaliknya Anda mungkin merasa getir karena mengambil keuntungan dari penjualan rumah orang yang sedang dililit hutang. Sebab, meskipun tidak salah, mengambil untung saat orang susah kurang dihargai oleh moralitas masyarakat kita.
Emosi dan seksualitas
Dorongan seksual yang dipicu oleh perasaan nikmat dan ketertarikan bisa mendominasi pikiran dan tindakan. Jika sudah berhasrat, seseorang bisa pendek pikiran. Apapun dilakukan demi memenuhinya. Tidak jarang orang mau melakukan tindakan beresiko, seperti melakukan pemerkosaan, pergi ke tempat pelacuran atau mengundang pelacur. Bahkan sering ada yang sampai melakukan incest, atau melakukan hubungan seksual dengan keluarga sedarah.
Beberapa emosi sangat erat berkait dengan aktivitas seks. Emosi takut misalnya. Emosi itu membuat seseorang yang mengalaminya akan sulit melakukan hubungan seks yang nikmat. Adapun rasa takut akan diketahui orang lain pada saat melakukan hubungan seks, membuat banyak hubungan seks dilakukan diam-diam tanpa gaduh. Demikian juga emosi takut berperan dalam hubungan seks itu sendiri. Misalnya takut hamil, sehingga hati-hati melakukannya. Takut gagal ereksi. Takut tidak memuaskan. Takut sakit jika vagina dimasuki penis, dan berbagai takut dengan berbagai sebab lainnya.
Banyak orang sengaja melakukan hubungan seks yang sedikit menimbulkan cemas. Adanya emosi cemas semakin menantang dalam melakukannya. Misalnya melakukan hubungan seks di tempat ganti pakaian di Mall, hubungan seks di mobil yang diparkir di pinggir jalan, hubungan seks di lift, hubungan seks di taman, dan lainnya tempat-tempat umum. Campuran rasa cemas akan diketahui orang dengan hasrat seks, membuat hubungan seks semakin nikmat. Begitu pengakuan yang melakukannya.
Salah satu emosi yang sering muncul pada saat hubungan seks adalah perasaan bersalah. Terutama jika seks dilakukan tidak dengan pasangan sah alias selingkuh. Perasaan bersalah juga umum ditemui pada hubungan seks antara pasangan-pasangan yang belum menikah. Hubungan seks semacam itu dianggap banyak orang tidak bermoral sehingga memunculkan rasa bersalah bagi mereka.
Emosi cinta romantik atau asmara merupakan salah satu jenis emosi yang mendorong orang melakukan hubungan seksual. Ketertarikan seksual itu sendiri dianggap sebagai salah faktor dari cinta. Kebanyakan orang melakukan seks karena didorong oleh perasaan cinta. Bahkan, tidak jarang orang menilai cinta dari hasrat melakukan hubungan seksual. Jikalau tidak berhasrat melakukan hubungan seksual dengan yang dicintai maka lalu dianggap tidak cinta.
Emosi dan gender
Sebelum membahas lebih jauh, mula-mula harus dibedakan antara perbedaan seks dan perbedaan gender. Perbedaan seks adalah perbedaan yang ditentukan secara biologis. Misalnya dalam fungsi seksual. Adapun perbedaan gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang ditentukan oleh faktor budaya dan psikologis.
Umumnya orang menganggap bahwa perbedaan pengalaman atau ekspresi emosi antara perempuan dan laki-laki sungguh-sungguh ada. Masyarakat kita memiliki stereotip bahwa laki-laki kurang mampu menghayati perasaan emosionalnya. Adapun perempuan sangat menghayati emosinya. Laki-laki mudah menyembunyikan emosi yang dialaminya, sedangkan perempuan sulit menyembunyikannya. Oleh sebab itu maka perempuan cenderung dilihat lebih emosional ketimbang laki-laki. Masyarakat kita cenderung menganggap bahwa perempuan lebih mudah merasakan takut, cemas dan sedih daripada laki-laki. Sedangkan laki-laki dianggap lebih mudah untuk marah.
Peran gender sangat mempengaruhi keadaan emosional. Perempuan menekankan pada tanggung Jawab sosial dalam emosinya. Perempuan lebih merasa bertanggung Jawab terhadap emosi orang lain. Mereka sangat memperhatikan keadaan emosi orang lain sehingga lebih mampu untuk memahami perubahan emosional. Oleh sebab itu kaum perempuan biasanya jauh lebih memiliki empati terhadap penderitaan orang lain ketimbang laki-laki.
Tempat bisa mempengaruhi pengalaman emosi yang dialami antara laki-laki dan perempuan. Bagi perempuan, hal-hal yang terkait dengan emosi positif biasanya ada di dalam rumah. Misalnya kehangatan, kebahagiaan, keamanan dan kenyamanan. Sedangkan diluar rumah sering dikaitkan emosi negatif, seperti tidak nyaman, tidak aman dan kejam. Bagi umumnya laki-laki, luar rumah lebih menarik karena memberikan tantangan emosional. Misalnya tantangan mendapatkan rasa bangga.
Emosi dan spiritualitas
Emosi sudah tentu memainkan peran dalam spiritualitas. Perasaan terhubung dengan sesuatu yang transenden, yang disebut Tuhan, memainkan banyak dimensi emosi. Perasaan terhubung itu juga merupakan sejenis emosi tersendiri. Sepertinya ada campuran antara rasa takut, sayang, bahagia, dan rendah diri.
Orang melakukan pemujaan dan ritual ibadah didorong oleh emosi-emosi tertentu. Seperti misalnya emosi takut akan dilaknat dan dimasukkan neraka. Selain itu mungkin juga didorong perasaan berharap, bahwa jika melakukan ibadah tertentu maka akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan; kelak mati akan mendapat surga, hidup menjadi berkelimpahan rejeki dan sebagainya.
Salah satu emosi yang sering muncul pada saat orang melakukan ibadah adalah perasaan damai dan aman. Oleh sebab itu ritual ibadah bisa digunakan untuk memunculkan emosi damai jika sedang dilanda kecemasan. Anda mungkin pernah melakukannya. Saat Anda mengalami cemas, maka Anda beribadah. Setelahnya cemas Anda akan menghilang.
Pada saat orang merasa mulai kehilangan harapan dan putus asa, adanya sesuatu yang transenden bisa mencegahnya berlanjut. Orang selalu merasa optimis meski situasi riil sama sekali tidak mendukung optimisme itu sebab adanya emosi percaya yang sangat kuat terhadap Tuhan. Mereka yakin bahwa Tuhan akan menolong dan memudahkan entah bagaimana caranya.
Emosi di tempat kerja
Apa jadinya jika diantara rekan-rekan terjadi perasaan tidak saling suka? Kerja tidak akan maksimal. Jika tidak ada rasa saling percaya, sulit akan melakukan kerjasama yang baik. Sebaliknya jika muncul rasa percaya antara rekan-rekan kerja, maka bisa muncul kerjasama yang membuat pekerjaan akan lebih berhasil.
Pada situasi kerja, sangat banyak faktor emosional yang memainkan peranan. Pekerja yang mengalami emosi positif, seperti senang, gembira, damai dan aman, akan lebih baik kinerjanya dibandingkan mereka yang mengalami banyak emosi negatif, seperti curiga, sedih, dan takut. Mereka yang mengalami emosi positif juga lebih puas dalam pekerjaannya. Oleh sebab itu pengunduran diri juga rendah. Emosi cemas akan dimarahi atasan jika pekerjaan tidak sempurna bisa membuat seorang pekerja stres berat. Atasan yang mudah marah-marah pada bawahan akan membuat bawahan bekerja dalam tekanan. Muncul juga ketidaksukaan pada atasan. Pendek kata, emosi sangat berpengaruh di tempat kerja.
Emosi juga bisa menjadi pedoman dalam bekerja. Misalnya malu dan bangga. Adanya malu karena gagal melakukan sesuatu yang baik dan berhasil akan menjadi pelecut bagi seorang pekerja untuk bekerja baik. Malu tidak naik-naik jabatan, akan membuat seorang pekerja berusaha bekerja keras agar di promosikan. Adapun jika bangga karena berhasil berprestasi dalam bekerja, maka orang akan berusaha keras dalam bekerja. Jika merasa bangga cepat naik jabatan, maka orang akan berupaya keras agar segera dipromosikan naik jabatan.
Mengingat besarnya pengaruh emosi di tempat kerja, maka manajemen tempat kerja yang baik sudah seharusnya memperhatikan faktor-faktor emosional tersebut. Pemimpin yang berhasil adalah yang bisa memanajemen emosi di lingkungan kerja.
Emosi di bidang seni
Seni adalah ungkapan kehidupan yang oleh karenanya menjadi wajar jika umumnya seni merupakan ekspresi dari emosi. Sekurang-kurangnya ada ungkapan emosi di sana. Terentang dari mulai seni tulisan, musik, drama, dan seni rupa, semuanya menampilkan emosi. Banyak cerita-cerita, musik-musik, film-film dan lukisan-lukisan yang menerangkan bagaimana emosi dialami dan terjadi pada diri manusia. Ada yang mengeksploitasi takut seperti cerita horor. Ada juga yang mengeksploitasi kesedihan, kemarahan, kebahagiaan, dendam, dan lainnya.
Penikmat seni bisa ikut mengalami emosi seperti yang tergambar dalam karya seni. Penonton film horor akan ikut merasa takut. Penonton film tragedi akan ikut menangis. Pendengar musik alam, akan ikut merasakan damai. Tapi apakah emosi itu riil? Sepanjang Anda merasakan adanya emosi itu dalam diri Anda, maka emosi itu adalah riil. Meskipun tentu saja dengan kesadaran bahwa penyebabnya tidak benar-benar riil. Film horor hanyalah bohong-bohongan.
Seni bisa memperkuat dan menurunkan emosi. Misalnya musik. Suara musik berperan penting dalam memperkuat atau menghilangkan emosi tertentu. Musik yang mendayu-dayu akan lebih cocok untuk suasana romantik sehingga memperkuat emosi cinta. Musik yang menyayat akan lebih memperkuat suasana sedih. Musik yang cepat dan menghentak akan lebih memperkuat suasana gembira.
Pada akhirnya harus dikatakan bahwa tanpa emosi, sebuah karya seni menjadi tidak bermakna. Sebaliknya penikmat tidak akan dapat menikmati karya seni jika tidak memiliki emosi tertentu terhadap karya seni itu. Ketidaktertarikan pada sebuah karya seni menunjukkan bahwa emosi Anda tidak positif pada karya seni itu. Misalnya Anda tidak suka sebuah film, maka boleh jadi Anda secara emosional kurang dibangkitkan oleh film itu.

