Kegagalan Sistem Pendidikan Asia
Pada edisi 26 Maret 2010, salah satu jurnal sains paling bergengsi di dunia, Science, memuat sebuah artikel singkat berjudul “Asian Test-Score Culture Thwarts Creativity”, yang ditulis oleh William K. Lim dari Universiti Malaysia Sarawak. Dituturkannya bahwa meskipun sejak bertahun-tahun lalu Asia didaulat akan menjadi penghela dunia sains berkat sangat besarnya investasi di bidang sains dan teknologi, kenyataannya Asia masih tetap saja tertinggal di banding negeri-negeri barat (Eropa Barat dan Amerika Utara). Menurutnya, akar permasalahannya adalah budaya pendidikan Asia yang berorientasi pada skor-tes, yang alhasil tidak mampu mengasah keterampilan berpikir dan kreativitas pelajar. Padahal kedua kemampuan itulah yang menjadi dasar untuk bisa menjadi ilmuwan yang berhasil.
Di Asia, para pelajar dan sekolah berorientasi mengejar skor-tes setinggi-tingginya. Para pelajar yang memiliki skor-tes lebih tinggi akan lebih baik karir masa depannya karena persyaratan masuk ke berbagai institusi pendidikan yang lebih tinggi dan lebih baik ditentukan oleh skor-tes. Semakin tinggi skornya tentu semakin baik pula peluangnya. Beragam pekerjaan bergengsi juga hanya bisa dimasuki oleh mereka-mereka yang memiliki skor tinggi. Sekolah yang para siswanya meraih skor-tes tinggi akan naik reputasinya, dan dengan demikian menjamin pendanaan lebih banyak. Guru pun ditekan untuk mengajar dengan orientasi agar siswa bisa memperoleh skor-tes yang tinggi. Tidak heran jika kemudian latihan-latihan tes mengambil porsi besar dalam pendidikan di sekolah-sekolah di Asia karena keberhasilan sebuah sekolah semata-mata dinilai dari catatan skor-tes yang diperoleh sekolah itu.
Akibat iklim pendidikan berorientasi skor-tes, para orangtua di Asia lazim memasukkan anak-anaknya ke suatu les pelajaran tambahan di luar sekolah sejak usia dini. Di Singapura, pada tahun 2008, sejumlah 97 dari 100 pelajar mengikuti les tambahan pelajaran di berbagai institusi persiapan tes (baca: Lembaga Bimbingan Belajar). Pada tahun 2009, industri persiapan tes di Korea Selatan bernilai 16,3 Miliar US$ atau setara dengan 146,7 triliun rupiah. Jumlah itu kira-kira senilai 36% dari anggaran pemerintah untuk dunia pendidikan di negeri ginseng.
Akibat waktu sekolah yang panjang dan beban PR yang berat, para pelajar Asia hanya terasah kemampuan intelektualnya dalam hal mengingat fakta-fakta untuk kemudian ditumpahkan kembali saat ujian. Hasil dari budaya pendidikan semacam itu adalah kurangnya keterampilan menelaah, menginvestigasi dan bernalar, yang sangat dibutuhkan dalam penemuan-penemuan ilmiah. Dalam artikelnya, William K. Lim menyatakan bahwa para mahasiswa yang ditemuinya lemah dalam melihat hubungan-hubungan dalam berbagai literatur, membuat kemungkinan-kemungkinan ide-ide, dan menyusun berbagai hipotesis. Padahal, mereka adalah para peraih skor-tes tertinggi. Hal itu membuktikan kalau sistem pendidikan Asia tidak melahirkan talenta saintifik.
Benar bahwa dalam berbagai ujian, para pelajar Asia “selalu” memiliki skor-tes lebih baik dari para pelajar Eropa Barat dan Amerika Utara berkat pendidikannya yang berorientasi skor-tes. Akan tetapi ketika bicara soal kreativitas dan kualitas hasil penelitian, para pelajar Asia jauh tertinggal. Sebagai akibatnya, sangat sedikit ilmuwan berkelas yang dihasilkan Asia. Mayoritas ilmuwan kelas dunia dari negara-negara Asia pun biasanya dididik dalam pendidikan Eropa/Amerika, bukan dalam iklim pendidikan Asia.
Tidak bisa dipungkiri bahwa para pemenang olimpiade sains dunia (fisika, sains, biologi, dan lainnya) mayoritas berasal dari Asia. Indonesia sendiri telah berkali-kali memiliki para juara. Akan tetapi mereka merupakan hasil penggodokan khusus oleh tim khusus olimpiade sains. Mereka bukan hasil alami iklim pendidikan seperti biasa. Jadi, fenomena itu sama sekali tak mengindikasikan keberhasilan sistem pendidikan di Asia. Faktanya, meskipun mendominasi kejuaraan, Asia tak kunjung melahirkan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Jumlah ilmuwan yang terlahir dari Eropa/Amerika sangat timpang jauhnya dibandingkan dari Asia.
Bukti kegagalan sistem pendidikan Asia dalam menelurkan talenta saintifik berlimpah ruah. Benar bahwa Asia, terutama Asia Timur, digambarkan kuat dalam menyerap pengetahuan yang ada dan dalam mengadaptasi teknologi yang sudah ada (maklum, mereka canggih dalam mengingat). Akan tetapi Asia gagal membuat kontribusi orisinil terhadap ilmu-ilmu dasar. Hingga kini tidak ada temuan-temuan ilmiah berarti dari Asia. Kemajuan besar dalam sains dan teknologi yang digapai negeri-negeri Asia tidak ada yang merupakan karya orisinil Asia: nyaris semuanya merupakan adaptasi teknologi dari negeri-negeri barat. Padahal, negeri-negeri barat sempat cemas dengan besarnya investasi negara-negara Asia terhadap dunia pendidikan yang jumlahnya jauh melebihi investasi mereka. Dikuatirkan mereka bakal terkejar dan lantas tertinggal dari Asia dalam satu atau dua dekade saja. Akan tetapi, ternyata mereka tak perlu risau lagi. Investasi pendidikan besar-besaran negara-negara Asia telah gagal karena kesalahan Negara-negara itu dalam membangun budaya pendidikannya. Kini, Asia tetap tertinggal di belakang.
Indonesia agaknya tidak belajar dari kegagalan investasi pendidikan di negara-negara Asia lain. Pendidikan Indonesia saat ini ikut-ikutan berorientasi pada skor-tes. Konkretnya, skor-tes saat ujian nasional menjadi syarat mutlak kelulusan. Lantas, di mana-mana di berbagai sekolah di seluruh penjuru negeri, orientasi pengajarannya hanya agar para peserta didiknya berhasil melewati ujian nasional. Bulan-bulan menjelang ujian, berbagai mata pelajaran yang tidak diujiankan akan dihapus dari jadwal. Latihan tes ditekankan. Berbagai les diselenggarakan. Maklum, sekolah akan dianggap gagal jika tidak berhasil meluluskan siswa-siswanya dalam ujian nasional. Para politisi pun beramai-ramai memanasi suasana dengan ‘memaksa’ para sekolah di daerahnya untuk bisa meluluskan siswa-siswanya, apapun caranya. Sebab, skor-tes ujian nasional di suatu daerah juga menjadi citra daerah itu. Lantas tak mengherankan jika muncul berbagai macam kecurangan untuk mengatrol nilai para siswa agar bisa lulus ujian.
Pendidikan yang berorientasi skor-tes menjadi berkah tersendiri bagi industri persiapan tes. Industri itu akan menjadi industri pendidikan yang paling menjanjikan. Potensinya luar biasa besar. Dengan jumlah pelajar yang hanya kurang dari 20% dari jumlah pelajar di Indonesia, industri persiapan tes di Korea Selatan telah menuai kapitalisasi senilai 146,7 triliun rupiah. Bayangkan besarnya potensi pasar industri persiapan tes di Indonesia, potensinya bisa diduga ratusan triliun rupiah. Anda tertarik?
Buah yang akan dituai dari budaya pendidikan berorientasi skor-tes sangat jelas, seperti ditunjukkan negara-negara Asia lain yang telah gagal: ketidakmampuan menghasilkan ilmuwan. Maka, selamanya, selama budaya pendidikan itu tak diubah, Indonesia tak akan pernah mampu menjadi pelopor di bidang sains dan teknologi. Indonesia hanya akan menjadi pengekor karya ilmiah negeri-negeri lain, seperti selama ini. Masih mending negara-negara Asia lain, seperti Korea, Taiwan, China, Singapura dan Jepang yang mampu membuat adaptasi teknologi sehingga memakmurkan negerinya. Sedangkan kita, mengadaptasi saja tak mampu, apalagi mencipta.
Agaknya pemerintah Indonesia tetap ‘kekeuh’ mempertahankan kebijakan pendidikan skor-tes itu dengan berbagai alasannya. Tapi, pertimbangkanlah ini: jika negeri-negeri semaju seperti Korea, Jepang, Taiwan, Singapura saja telah dianggap gagal menelurkan para ilmuwan (dan dengan demikian gagal menjadi tuan di bidang sains dan teknologi) gara-gara budaya pendidikannya yang berorientasi skor-tes, masa sih kita harus meniru mereka?
Mengutip William K. Lim: “A radical trasformation of the educational culture must happen before homegrown Asian science can challenge Western technological dominance.”
Benar kata Tuan Lim, kita memerlukan transformasi radikal dalam pendidikan kita, atau kita akan terus menjadi negeri tak dianggap siapa-siapa.
Achmanto Mendatu


Bener banget tuh… izin share yah..
Finally, an issue that I am passionate about. I have looked for information of this caliber for the last several hours. Your site is greatly appreciated.
Ah, setuju. Kalau begitu seharusnya diadakan penyuluhan supaya anak2 ga lagi belajar buat ngejar nilai tapi ngejar ilmu. Juga penyuluhan buat orang tua supaya ga maksa anaknya dapat nilai bagus.
Tapi kalau nilai bagus ga perlu, apa perlunya sebuah sekolah (sekolah yg model pendidikannya standard, bukan yg aneh2)?
Apayang dibicarakan sangat betul ,tapi yang harus diingat faktor pendukung .maksud saya kita akan terdorong pada suatu metoda tertentu karena kondisi yang memaksa spt. jumlah murid dalam kelas, pofesionalisme tenaga pengajar dan kesejahteraan guru. dah de ini aja dulu kita bisa menuntut apa ?. saya kira dengan keadaan yang ada sudah sangat hebat apa yang kita capai . Dan saya lihat pendidikan dikita bukan oleh hasil pendidikan di sekolah tapi hasil belajar sendiri.
bener jg tu bozz..
thx n mg sukses
bener tuh, sampe sampe banyak anak malas belajar krna hanya mengharapkan bocoran soa,yg penting punya uang utk beli soal. mau dibawa kemane Indonesia tercinta ini?
pola belajar harus diubah,banyak siswa kenyataannya setres karena memikir kan skor tes nilai tertinggi
Realita inilah yang dikeluhkan putraku Satrio Wibowo (16th) sejak duduk dibangku SD. Dunia pendidikan Indonesia sudah salah kaprah, siswa tidak diberi kesempatan untuk berfikir kreatif & memahami ilmu pengetahuan.
Inilah curhat Satrio di http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/20/curhat-satrio-wibowo-terhadap-sistem-pendidikan/
..sebaiknya mulai dari pendidikan di keluarga krn perbaikan skala nasional susah di wujudkan
lucunya lagi, banyak orang tua berlomba-lomba menyuap guru supaya anaknya masuk peringkat 3 besar di kelas. nggak peduli dgn kemampuan anak, pokoknya harus rangking. orang tua yg aneh….
Betul sekali apa yang ditulis di artikel tsb. Itu yang selama ini menjadi keprihatinan kita. Kadang saya merasa lelah, karena tidak mampu berdiri sendiri untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia yang menggembok kreativitas anak. Sebagai seorang praktisi pendidikan (PAUD dan SD) saya berjuang keras untuk melwawan sekolah model gaya pabrik atau gaya bank seperti itu. Sayangnya, di tingkat sd hal itu sulit terwujud krn berbenturan dg sistem yag kekeh tidak mau berubah.
Apa yang bisa kita lakukan ? Bisakah kita menggalang kekuatan untuk menolong generasi anak-anak yang tidak bersalah ini dari keterpurukan masa depan?
keputusan ada ditangan pemerintah.
selama pemerintah tdk mau bljar dr kgagalan sistem pendidikan selama ini,
maka selama itu pulalah negeri ini menjadi negeri yg tidak dianggap siapa siapa.
kalau selama ini pendidikan salah, siapa yang memikirkan konsep seluruh pendidikan di Indonesia? ilmu psikologi? ilmu teknik? ilmu pendidikan? ilmu biologi? siapa coba? tanya yang buat konsep pendidikan! berdasar apakah konsep pendidikan di Indonesia dibuat? Ilmu apa yang paling berperan dalam penyusunan konsep keseluruhan itu?
memang benar apa yang telah disampaiakn oleh Lim, tapi kita harus banyak berbenah diri tidak dari sistem pembelajaran saja tapi mutu guru juga harus diperjuangkan. Taon ini pun pihak sekolah seperti kebakaran jenggot sebab soal yang disiapkan oleh panitia mempunyai 5 variasi soal. penskoran nilai memang sudah membudaya dari zaman ke zaman tergantung siapa bakal menjadi menteri pendidikan. so sekolah jg tidak mau tau dengan hasil yang dicapai siswa yang penting lulus 100 %. Kepala sekolah ditekan dari atas , guru ditekan oleh kepala sekolah. Seakan pendidikan di Indonesia ini seperti bola salju yang siap digelindingkan sesuai permintaan. makanya yang belajar itu guru bukan siswa . siswa seperti bahan percobaan dan disiapkan khusus unt nilai yang dicapai bukan bentuk kreatifitas dari mereka, makanya ndak akan pernah maju.
Saya salut dgn salah satu SD di Yogya yg dia menerima siswa pindahan dari Australia yg agak mengalami keterbelakangan mental. Pihak sekolah tahu betul bahwa si anak tidak akan bisa menyamai kemampuan akademis anak2 normal yg lain. Tapi sekolah punya keyakinan kalau paramater keberhasilan bukan prestasi akademis, tapi bagaimana mengembangkan potensi anak. Pihak sekolah percaya anak yg agak terbelakang tersebut potensinya akan mampu berkembang lebih baik jika berinteraksi dgn anak normal. sebaliknya, siswa yg normal juga akan berkembang dgn mendapat manfaat dari keragaman karakter si anak yg agak terbelakang tersebut.Intinya, diversity benar2 dihargai di sekolah itu karena semua org punya potensi berbeda yg tdk bisa diukur dgn satu alat saja seperti skor atau nilai.
Setuju sekali dengan artikel diatas tersebut. Saya juga masih ingat masa saya di sekolah SD, SMP dan SMU, sampai Kuliah D3. Semua siswa berlomba2 untuk mendapatkan skor terbaik, namun mereka tidak tau menyalurkan ilmu atau kemampuan yang mereka miliki. Hanya pintar di sekolah, tapi bodoh di dalam kehidupan.
saya sangat setuju dengan tulisan d atas, bagaimana mungkin pendidikan d indonesia bisa menjdi lebih baik kalau standart penilaian hanya berdasarkan hasil skor test. kalau kita lihat fenomena yg ada sekarang di mana dunia pendidikan harus bermodalkan uang besar, jadi seorang anak yg berprestasi sangat tidak mungkin mengikuti perguruan tinggi yg bagus jika dia anak orang miskin dan sebaliknya.dan fenomena lain dunia seorang pelajar yg penuh dengan mode dan hura-hura, mana mungkin indonesia bisa menghasilkan ilmuwan-ilmuwan…… ini semua tidak lepas dari kesalahan pemerintah yg tidak pernah punya konsep pendidikan yg jelas ( selalu berubah ubah tidak konsisten )
kasian anak indonesia…..
Sebagian besar dari tulisan ini memang benar. Tidak selamanya yang nilainya tertinggi menjadi siswa terbaik di kelas. Kadang siswa yang nilainya menengah atau rendah malah punya potensi yang besar untuk berkembang.
Tapi mengenai juara olimpiade Asia yang kalah berkembang dibanding pelajar dari Eropa, sepertinya banyak faktor yang menentukan (bukan hanya sistem pendidikannya saja).
yups…bener banget…kasian …anak2 di indonesia …bersekolah bukan tempat yg menyenangkan..membuat semangat..tapi membuat stress…kita sebenarnya harus sama2 memperbaiki sistem ini…
bener bgt tulisan di ats…sebaiknya pemerintah gak hanya memikirkan skor nilai tinggi..dan mengejar standar nilai dri negara lain tapi sebaiknya benahi dulu sistem pendidikan di negara kita…benahi sarana dan prasarana yang ada.. berikan guru2 yg berkualitas pada ank2 penerus generasi bgsa..bila sarana dan prasarana baik guru2 jg memiliki kualitas dan kinerja yg baik tanpa di patok nilai tinggi jg..sy percya nilai siswa indonesia akan meningkat…..
It’s sad, but true. Bukan hal yang enak untuk didengar, tetapi apa boleh buat, memang kenyataannya seperti itu. Nice article!
Hufh, tugas kita bersama untuk mewujudkan pendidikan murah yang berkualitas untuk semua…
Ijin share
Membaca
Benar sekali yang dicari siswa kita hanya nilai /angka yang tertinggi dalam ujian, sehingga sontek massal bukan hal rahasia. Mohon ijin untuk menyebarluaskannya, biar melek tokoh-tokoh yang memiliki kebijakan.
sudah waktunya sistem pendidikan yg lebih aplikatif
Anak saya sekarang duduk di bangku SD. Sengaja saya pilih sekolah yang bisa memberikan kebebasan anak untuk berpikir dan mendorong kreatifitasnya dengan tidak memberikan sistem ranking di kelas dan lebih menekankan pada “mengerti” dan “tidak hanya menghafal”. Namun pada kenyataannya masih saja dibutuhkan sistem skor dalam ulangan untuk membuktikan keberhasilan pendidikan seorang murid karena sistem pendidikan nasional yang ada masih berorientasi mengejar standard skor-tes. Saya masih berharap ada perubahan yang lebih baik lagi di sistem pendidikan Indonesia.
Anak saya sekarang duduk di bangku SD. Sengaja saya pilih sekolah yang bisa memberikan kebebasan anak untuk berpikir dan mendorong kreatifitasnya dengan tidak memberikan sistem ranking di kelas dan lebih menekankan pada “mengerti” dan “tidak hanya menghafal”. Namun pada kenyataannya masih saja dibutuhkan sistem skor dalam ulangan untuk membuktikan keberhasilan pendidikan seorang murid karena tuntutan sistem pendidikan nasional yang ada masih berorientasi mengejar standard skor-tes. Saya masih berharap ada perubahan yang lebih baik lagi di sistem pendidikan Indonesia.
Saya setuju dengan pandangan artikel diatas, metode pendidikan yg kita gunakan bisa membatasi kreatipitas dan bakat anak, karena anak dituntut untuk belajar extra agar bisa lulus dalam ujian.
Metodi ini tentunya hanya mengejar kuantitas bukan kualitas ilmu itu sediri, sebab mereka dipaksakan untuk menghapal teori-teori dan rumus, bukan memperdalam dan memahami ilmu itu sendiri.
Jika kita melihat dari dampak positip, metode yg kita gunakan sungguh berpengaruh terhadap prilaku dan sikap anak2 sekarang. Sekarang ini remaja tidak memiliki banyak waktu luang untuk bermain dan ugal ugalan dijalan, mereka harus berkonsentrasi menuju ujian akhir nasional.
Jadi pendapat saya, segala keputusan pasti ada dampak positip dan negatip.