Kisah: Mengganti Waktu
Seperti biasa, Indra, seorang manajer perusahaan terkemuka di Ibu Kota, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tapi tidak seperti biasanya, Andi, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Tampaknya dia sudah menunggu cukup lama.
“Kenapa belum tidur?” tanya Indra sambil mencium kening anaknya. Biasanya Andi sudah terlelap tidur ketika dia pulang, dan baru terjaga bertepatan saat dia akan berangkat ke kantor di pagi hari.
Sambil membuntuti Papanya menuju ruang keluarga, Andi menjawab, “Aku nunggu Papa pulang, mau tanya gaji Papa berapa ya?”
“Kok nanya gaji Papa? Mau minta uang?”
“Enggak kok. Cuma pengin tahu” jawab Andi singkat.
“Oke. Kamu hitung ya. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 500 ribu. Setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Kadang Minggu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo?”
Andi berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Saat Indra beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Andi berlari mengikutinya. “Kalau satu hari Papa dibayar Rp. 500 ribu untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 50 ribu dong” katanya.
“Wah, kamu pinter ya. Yah sudah, sekarang tidur!” perintah Indra.
Tetapi Andi tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Andi kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5 ribu, nggak?”
“Sudah, jangan macam-macam. Buat apa minta uang malam-malam begini? Papa capek. Mau mandi dulu. Pergi tidur!”
“Tapi Pa…”
Kesabaran Indra pun habis. “Papa bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Andi. Bergegas anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Saat mandi, Indra teringat perbuatannya dan menyesali hardikannya. Usai mandi, dia pun menengok Andi di kamarnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Andi didapati sedang berbaring terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 20 ribu di tangannya.
Ikut berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Indra lantas berkata, “Maafkan Papa ya, Papa sayang sama Andi. Tapi memangnya buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5 ribu. Lebih dari itu pun Papa pasti kasih!”
“Papa, aku enggak minta uang Papa. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini” jawab Andi masih terisak.
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Indra lembut.
“Aku nungguin Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama bilang kalau bagi Papa, waktu itu uang. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Tapi tabunganku cuma Rp. 20 ribu. Karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 50 ribu, jadi hanya bisa setengah jam saja ganti waktu Papa, itupun harus pinjam Rp, 5 ribu dulu dari Papa.” kata Andi polos.
Indra pun terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Air mata menetes di pipinya. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk ‘membeli’ kebahagiaan anaknya.
Wajib baca
Kisah-kisah dalam situs ini adalah kisah-kisah yang berhasil dikompilasi dari berbagai sumber yang tersebar di internet. Sebagian kisahnya telah tertulis dalam bahasa Indonesia (pada umumnya kami mengeditnya kembali) dan sebagian besar yang lain masih dalam bahasa inggris (kami menerjemahkannya). Mungkin saja -kisah itu pernah diterbitkan dalam sebuah buku dan ada pemilik hak ciptanya. Sejauh memang itu ada tertulis dari mana sumbernya, maka kami akan menuliskan sumbernya dan kalau perlu meminta izin. Namun yang terjadi tidak demikian. Sebuah kisah bisa dimuat dalam beberapa situs yang berbeda. Masalahnya, di setiap situs tidak dicantumkan dari mana kisah itu berasal dan siapa pemilik hak ciptanya. Oleh karena itu, kisah-kisah dalam buku ini pun tidak bisa mencantumkan dari mana sumber kisah-kisahnya. Hanya jika kisah yang ada jelas bersumber dari mana, maka sumber itu pasti akan disebutkan.
Kepada siapa pun Anda yang merasa memiliki hak cipta atas kisah-kisah itu. Maka saya mohon maaf telah mengutip kisah Anda untuk buku ini. Tidak ada maksud untuk melanggar hak cipta. Publikasi kisah-kisah dalam situs ini ada hanya semata-mata untuk tujuan berbagi, karena sebuah kisah yang menginspirasi kehidupan sebaiknya menjadi milik semua orang. Setidaknya itu yang saya yakini, karena kisah-kisah itu akan memperkaya kehidupan semuanya. Apabila Anda sebagai pemilik hak cipta kisah yang ada dalam situs ini menghendaki untuk menghapus kisah tersebut, maka kirimkan email kepada kami di alamat: psikologi.online@gmail.com, kami akan segera menghapusnya.


kisah2nya sangat memberi inspirasi dan menyentuh…
chayo ya…smoga psikologi-online bisa terus eksis ‘n ditambah lagi cerita2nya…
wah, sy pernah baca tulisan ini dan kalo gak salah sy punya bukunya, tapi lupa judulnya. kayanya sih buku “setengah isi, setengah kosong” coba aja di cek. siapa tau jd bisa nyantumin sumber