Konsultasi: Bingung dengan kondisi rumah
TANYA
Saya X, umur 17 tahun.
Jadi gini, orang tua saya single parent, ayah udah meninggal sjak lama. Sjak itu keadaan kluarga jdi gak senyaman sbelumnya. Ibu jdi kbingungan cri uang sana-sini..uang pensiunan sama sekli gak bisa di andalkan. Pdhal sya juga punya adik yang msih sma. Kdang saya mrasa gak bisa bantu, ingin bnget sekolah yang tinggi biar dpt krja yang bagus, tpi mengingat keadaan keuangan, saya jadi ngerasa pesimis.
Krena gak ad sosok ayah, kepribadian adik laki2 saya kurang bagus, dia jadi sewenang-wenang. ibu juga kadang memanjakan dia, selalu menuntut yang dia mau. Di rumah jdi kurang ngerasa nyaman. Dan baru2 ini saya tahu bahwa yang dilakukan ibu saya dalam mencari uang tidak sepenuhnya halal, pkiran saya jadi semakin kacau, saya gak tahu ap yang hrus sya lkukan dengan usia saya yang msih belia, ingin cerita pda saudara, tpi gak ingin membuat ibu saya malu, ingin bilang ke ibu tapi takut.
Saya kadang berpikir, ap lebih baik saya berhenti sekolah ? tpi ini adalah tahun terakhir saya di sma, dan prestasi saya ckup bgus, merasa sayang untuk di tinggal. Tpi juga gak ingin menuntut ibu untuk selalu mencari uang, karena biaya sekolah saya terbilang cukup mahal. Saya sering ngerasa bgung dan lebih mencari acara di luar rumah. Gak tahan menghadapi keadaan di rumah.
Apa yang harus saya lakukan?
JAWAB
X yang sedang gundah gulana.
Karena bertanya apa harus dilakukan, jika boleh memberi saran pertama, maka saya menyarankan untuk menyelesaikan sekolah. Apalagi prestasimu bagus. Berhenti sekolah akan lebih banyak ruginya. Kita kan tidak pernah tahu jalan terbuka di depan kita seperti apa, tapi kita semua tahu kita bisa mempersiapkan diri jika ada jalan terbuka terbentang di depan kita. Toh tidak harus kuliah setelah tamat SMA. Namun dengan membekal lulus SMA, ada lebih banyak peluang yang bisa didapatkan daripada hanya membekal ijazah SMP.
Memang tidak mudah ya menghadapi situasi rumah yang tidak seperti diinginkan. Hal itu membuat kita cenderung mencari kenyamanan di luar rumah. Tapi jika kita terus mencari nyaman di luar rumah, maka rumah kita pun tidak akan pernah menyenangkan kita. Siapa lagi yang akan membuat nyaman rumah jika bukan kita?
Bagaimana jika begini: Apa yang bisa kamu lakukan untuk memperbaiki kondisi rumahmu? Coba daftar semua kemungkinan yang bisa kamu lakukan untuk membuar rumahmu nyaman buatmu dan untuk semua keluargamu. Lakukan hal yang paling kecil yang kamu bisa lakukan. Mulailah dan jangan tunda. Biasanya hal-hal kecil yang bisa dilakukan berakibat besar lebih dari yang kita bayangkan.
Apabila kamu merasa belum bisa membantu keuangan ibumu, kamu bisa lakukan dengan membantunya melalui jalan berbeda: misalnya hemat, bantu mengurus rumah, prestasi bagus di sekolah, dan sebagainya. Kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan.
Pernahkah dirimu membayangkan berada dalam posisi ibumu? Coba bayangkan dan hayati peran ibumu untuk kamu dan keluargamu. Bayangkan ibumu berkata begini, “Nak, Ibu ingin tegar dan menjadi ibu terbaik bagi anak-anak ibu. Ibu ingin anak-anak ibu menjadi tangguh karena ibu percaya, anak-anak ibu akan tumbuh menjadi manusia yang tangguh. Ibu pun kadang merasa lemah dan tak berdaya. Tapi ibu tahu bahwa ibu harus kuat dan tegar agar anak-anak ibu bisa tumbuh sebaik-baiknya. Ibu hanya melakukan apa yang ibu bisa.”
Kami sepakat denganmu, sebaiknya memang tidak perlu memberitahukan pada siapa-siapa tentang apa yang dilakukan ibumu. Membuat malu ibu bukan sebuah pertolongan yang diharapkan ibumu dari kamu.
Jangan takut bermimpi ya. Buatlah sebuah mimpi di masa depan yang bisa kamu raih, bekerja keraslah untuk impian itu, sehingga ketika meraihnya kamu bisa berkata dengan bangga, “Bu, inilah anak ibu!”
Impian masa depan apa yang bisa diraih? Banyak sekali. Salah satunya menjadi pengusaha. Terpenting, menjadi pengusaha tidak butuh sekolah tinggi dan bisa dimulai dengan modal yang sangat kecil. Banyak sekali perusahaan besar dimulai dari hal-hal kecil, seperti seorang pengusaha yang memulai usahanya saat SMA dengan menjual souvenir-souvenir kecil (kalung, gelang, jepit rambut, dan semacamnya) pada teman-temannya. Lima tahun berselang, dia mampu memiliki usaha pembuatan souvenir yang diekspor ke lar negeri. Karyawannya lebih dari 10 orang. Tentu saja dia masih muda. Perusahaannya memang bukan perusahaan besar. Tapi dia sudah bisa mandiri sepenuhnya. Dan dia masih begitu muda. Apa yang dikatakannya tentang usahanya, “Aku punya mimpi yang ingin kuraih. Aku nggak mau cuma jadi penjual barang-barang kasongan di pinggir-pinggir jalan yang untungnya tidak seberapa. Aku mau jadi pedagang besar. Saat mulai SMA membangun usaha, aku tahu itu hanya langkah awal untuk sesuatu yang lebih besar. Aku tahu aku harus melakukannya sebab jika tidak maka aku tidak akan pernah berbuat apa-apa.”
Tentu saja kamu bisa bermimpi sekolah tinggi. Tapi jika kamu kesulitan biaya, bukankah kamu bisa membiayai dirimu sendiri? Saat saya kuliah di fakultas Psikologi awal tahun 2000-an, seorang teman saya berjualan roti bakar dari sore hingga tengah malam untuk membiayai hidupnya, kuliahnya, dan orangtuanya. Pagi harinya hingga menjelang sore, dia kuliah. Nah, menurutmu kamu bisa membiayai kuliahmu kelak? Selalu ada jalan jika kamu memang bertekad baja.
Jadi, fokus ke masa depan. Buatlah sebuah impian. Berjuang untuk itu. Itu akan banyak menepis kebingungan.
Salam
psikologi-online.com

