Konsultasi: Posesif dan perubahan
TANYA
Langsung aja ya. Nama saya X. Saya punya pacar namanya Y. Kami pacaran sudah 4th, sejak dia masih SMP. Dia adalah pacar pertama saya, dan saya sangat menyayanginya. Tapi saya adalah seorang posesif banget. Dulu awal2 kami pacaran saya tidak posesif, tapi entah kenapa setelah itu dan sampe hari ini saya amat posesif sama dia. Dulu semasa dia sekolah, hubungan kami baik2 saja, artinya dia menerima ke posesifan saya seperti apapun. Tapi sejak dia lulus SMA dan sekarang udah kerja, dia berubah drastis. Saya tahu dia masih sayang sama saya, walaupun mungkin rasa sayangnya tidak sedalam dulu. Sepertinya sekarang dia udah gak menerima ke posesifan saya lagi, akhirnya kami saat ini lebih banyak berantemnya daripada bahagianya. Hubungan kami sudah tidak sehat lagi. Hampir tiap hari kami berantem. Tiap berantem kami selalu ucapkan kata pisah, walaupun baikan lagi setelah itu. O ya, saya tidak bisa meninggalkan dia karena selain saya sayang dia, kami juga udah melakukan hubungan intim. Jadi saya memikirkan juga tentang masa depan dia nantinya jika kami berpisah. Saya takut dia malah rusak dan tidak bahagia. Yang saya tanyakan adalah :
- Bagaimana agar hubungan kami bisa bahagia lagi seperti dulu? Karena kami berantem banyak disebabkan dia yang tidak lagi bisa menerima saya apa adanya. Dan saya juga tidak bisa menerima perubahan sikapnya.
- Bagaimana agar saya tidak lagi posesif? karena posesif ini tidak hanya menyiksa dia tapi juga saya sendiri merasa tersiksa. Pikiran saya penuh dengan curiga.
Mungkin hanya itu yang saya tanyakan untuk saat ini. Besar harapan saya agar anda bisa membantu saya. Saya ingin menikahinya, hidup bahagia dengannya.
Terima kasih banyak bapak, ibu, saudara yang akan membalas email saya ini.
JAWAB
Selamat Ya pada Anda yang telah benar-benar tahu apa yang diinginkan, yakni “Saya ingin menikahinya, hidup bahagia dengannya.” Tujuan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita. Adanya tujuan membuat kita fokus dengan apa yang kita lakukan.
Kami kira, yang Anda bisa lakukan pertama adalah merumuskan tujuan Anda berdua, sebab bagaimanapun sebuah pernikahan harus disetujui bersama. Tetapkan secara konkret kapan kira-kira pernikahannya akan dilangsungkan, di mana akan dilangsungkan, berapa biayanya, apa yang dilakukan setelah menikah, dan seterusnya. Lalu petakan juga apa kerugian dan keuntungan jika melanjutkan hubungan dan jika bubaran. Pembicaraan seperti itu akan menggiring Anda berdua memiliki tujuan bersama. Buatlah janji bersama, seperti:
- Ketika bertengkar tidak akan mengungkapkan kata-kata bubaran.
- Boleh mengungkapkan ide bubaran hanya jika sedang tidak bertengkar
- Hanya boleh bubaran jika syarat-syaratnya dipenuhi (daftar beberapa syarat. Misalnya orangtua menghendaki, dan seterusnya).
- Saya (X) bertindak sesuatu di luar batas-batas (daftar batas-batas itu, misalnya memukul) maka Y berhak meminta bubar. Demikian sebaliknya.
Itulah janji pasangan yang riil. Janji sehidup semati adalah janji yang absurd dan tak jelas. Tapi janji yang konkret semacam itu akan sangat bermanfaat dalam hubungan sehari-sehari. Faktanya, janji pasangan sifatnya lentur. Pelanggaran biasanya tetap terjadi sekali-kali. Pasangan yang berhasil biasanya adalah mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan janji-janji yang dibuatnya: ketika janji dilanggar, saling memaafkan. Namun karena sudah janji, jika kemudian pasangan memutuskan untuk mengakhiri bubaran, maka semua pihak bisa menerima, karena faktanya ada janji yang dilanggar.
“Wah bagaimana bisa diskusi jika kami bertengkar terus?” sanggah Anda. Tentu saja Anda harus menanti saat yang tepat untuk itu. Bagaimanapun sebuah tujuan bersama sangat penting dimiliki. Rasa sayang bisa pudar, tapi tujuan bersama akan terus menjadi pencegah agar hubungan tidak memburuk.
Orang berubah dari waktu ke waktu. Sebagaimana rasa sayang yang naik turun tak tentu. Jadi, kunci kuatnya hubungan bukanlah kesamaan (tidak harus sama-sama kuat rasa sayangnya kan?!), tetapi kemampuan masing-masing untuk menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Perubahan yang terjadi bisa saja ke arah yang negatif. Jika demikian kasusnya, maka tujuan bersama yang dimiliki akan menjadi rem sehingga hubungan tidak terus menerus memburuk.
Untuk soal ‘posesif’, sebenarnya harus jelas dulu apa yang Anda maksud posesif dan bentuk-bentuk perilakunya apa. Tapi karena tidak diterangkan, maka di sini hanya bisa disampaikan prinsip-prinsip umum cara menangani kecemburuan:
- Saat cemburu melanda, bicaralah pada sendiri dengan cara berbisik-bisik atau dalam hati saja, “Aku sedang cemburu! Aku sedang cemburu!” lakukan terus menerus sampai Anda yakin betul bahwa Anda hanya sedang cemburu.
- Kalau mungkin, berhenti melakukan aktivitas apapun. Lakukan relaksasi. Ambil nafas dalam-dalam, hembuskan pelan-pelan. Lakukan berulang-ulang sampai detak jantung terasa kembali normal. Saat lakukan relaksasi, terus lakukan berbicara pada diri sendiri, dengan kata-kata, “Aku sedang cemburu! Padahal aku bukan pencemburu!” terus lakukan berulang-ulang hingga merasa lebih baik.
- Pikirkan alternatif pikiran dari pikiran Anda sebelumnya (misalnya: Pikiran Anda: si dia berbicara dengan cowok lain di tempat kerja dan tertarik pada cowok itu. Pikiran alternatif : Dia berbicara karena harus mengenal rekan kerjanya agar pekerjaan lancar).
Semoga bermanfaat! Salam.
psikologi-online.com

