Masturbasi: Seks yang nyata?

mastubation2Masturbasi itu seks atau bukan ya? Inilah salah satu pertanyaan yang kerap muncul ketika membicarakan persoalan masturbasi. Jawabannya satu: Ya! Masturbasi adalah seks yang nyata.

Sebagian orang menganggap masturbasi bukan seks yang sesungguhnya karena tidak ada partner atau pasangan. Mereka menganggap bahwa seks yang nyata hanya bisa terjadi jika dilakukan bersama pasangan dan ada penetrasi seksual; si penis memasuki vagina. Tuhan menciptakan dua jenis kelamin (seks) berbeda bukan tanpa alasan; karena memang untuk dipertemukan dalam hubungan seks. Jadi jika tanpa pasangan maka tentu bukan seks namanya. Akan lain ceritanya jika hanya ada satu jenis kelamin, maka masturbasi sah-sah saja.

Argumen mereka didasarkan pada premis bahwa “cara” menentukan “hakikat”. Cara melakukannya yang menentukan semu atau nyatanya hubungan seks. Cara melakukan seks haruslah berpasangan; harus ada pertemuan antara organ seks laki-laki dan organ seks perempuan, karena secara harfiah kedua organ itu memang untuk dipertemukan dalam hubungan seks. Hanya dengan hubungan seksual maka bisa terbentuk dan terlahir seorang anak. Itulah hakikat dari proses hubungan seksual; prokreasi. Hanya hubungan seksual yang berpotensi prokreasi yang bisa dinyatakan sebagai seks sesungguhnya.

Premis “cara” menentukan “hakikat” bisa langsung dibantah. Apa yang dilakukan orang ketika akan mempertemukan si penis dan si vagina? Mereka menstimulasi bagian tubuh yang erotis, terutama bagian genital. Para pelakunya saling berciuman, saling memegang dan seterusnya sampai saling mempertemukan organ genitalnya masing-masing. Begitu juga masturbasi, yang dilakukan adalah menstimulasi bagian tubuh yang erotis juga. Bedanya, jika dalam hubungan seksual zona erotis distimulasi oleh tubuh pasangan, maka dalam masturbasi tubuh sendirilah yang menstimulasi.

Alasan lain yang bisa dikemukakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa masturbasi adalah “seks nyata” datang dari sudut pandang berbeda. Anda harus berpegang pada prinsip “tujuan” menentukan “hakikat”. Apapun caranya, asalkan tujuannya sama, maka hakikatnya sama. Ini persis sama seperti menyebut seorang pemenang; apapun caranya untuk menang (baik sendirian atau bersama tim), jika menang maka akan disebut pemenang.

Apakah tujuan melakukan hubungan seksual hanya untuk memiliki anak? Silakan Anda tanya pada orang-orang di sekitar Anda. Jawaban mereka kemungkinan besar “IYA!”. Sebab itulah alasan yang paling diterima secara moral. Menjawab, “Tidak. Hanya untuk bersenang-senang!” adalah jawaban yang tidak sesuai norma.

Akan tetapi faktanya sama sekali lain. Jika memang hanya untuk memperoleh keturunan, orang hanya akan melakukan hubungan seks pada saat subur saja. Setelah diketahui hamil maka tidak ada hubungan seks lagi. Begitu juga setelah jumlah anak yang diinginkannya terpenuhi, orang pun akan berhenti melakukan hubungan seks. Tapi tidak, bukan? Rata-rata orang dari segala usia melakukan hubungan seks 1 kali seminggu. Pada pasangan muda rata-ratanya malah 3 sampai 4 kali seminggu. Jadi, pendek kata, hubungan seksual jauh lebih banyak didorong oleh keinginan untuk bersenang-senang ketimbang untuk prokreasi.

Hubungan seksual memiliki tujuan untuk bersenang-senang melalui pencapaian orgasme. Hal yang sama terjadi pada masturbasi. Tujuan puncak masturbasi pun orgasme. Jika hubungan seksual dianggap seks yang nyata, maka masturbasi juga harus dianggap seks nyata sebab keduanya sama-sama menghasilkan orgasme.

Orgasme. Itulah alasan terpenting kenapa masturbasi harus digolongkan sebagai seks yang nyata-nyata seks, bukan seks yang semu. Saat Anda bermasturbasi, Anda juga merasakan perasaan nikmat atau perasaan “gairah terbangkitkan” yang mengarah kepada orgasme. Sebagaimana dalam hubungan seksual tidak selalu berakhir orgasme, pun demikian dengan masturbasi. Tapi pada pokoknya tujuan keduanya sama, yakni mencari sensasi seksual yang berpuncak pada orgasme.

Beri Komentar