Mencegah Anak Kecanduan TV & Game
Sekarang ini TV sudah menjadi bagian dari kehidupan seorang anak. Menonton TV mendapatkan porsi besar dalam jadwal keseharian anak. Sebagai gambaran, survei mengenai kehidupan anak yang berjudul Kid’s World- The Future Market pada tahun 2001 di enam kota, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makasar, menunjukkan bahwa sejak bayi anak-anak sudah mengenal TV. Begitu usia mereka menginjak satu tahun, sejumlah 92 % dari mereka telah terbiasa menonton TV. Pada saat usia 4 sampai 14 tahun, 100% telah menjadi penikmat TV yang setia. Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa anak menghabiskan rata-rata 30-35 jam seminggu untuk menonton TV.
Masalah anak terlalu sering menonton TV merupakan masalah klasik orangtua. Banyak orangtua mengeluh bahwa anak-anak mereka kecanduan TV. Jika masih cuma kecanduan, itu belum seberapa. Sebagian anak bahkan sampai meniru-niru adegan TV yang penuh kekerasan dan berbahaya. Ada anak yang melompat dari ketinggian untuk belajar terbang, ada yang suka memaki, bahkan ada yang sampai memukuli anak yang lain. Alasannya, “Meniru yang di TV”
Penelitian membuktikan bahwa menonton televisi memiliki dampak negatif bagi anak-anak, meskipun tentu saja ada dampak positifnya. Salah satu dampak negatifnya adalah meningkatkan agresivitas anak. Anak-anak yang menonton TV memiliki tingkat agresivitas lebih tinggi. Ini tentu tidak lepas dari banyaknya tayangan kekerasan dan agresivitas di TV. Berikut beberapa akibat negatif dari kegiatan menonton TV lainnya:
- Akibat dalam jangka lama dan terus menerus hanya dipengaruhi dua stimulus saja, yakni suara dan gambar, maka kemampuan anak berkonsentrasi sangat pendek. Anak-anak hanya sanggup berkonsentrasi antara 2 sampai 7 menit. Mereka jadi kesulitan dalam belajar yang ujung-ujungnya menimbulkan kemalasan belajar.
- Akibat terus menerus di depan TV maka aktivitas fisik anak berkurang. Mereka menjadi kurang terampil. Lebih buruk lagi, mereka menjadi kekurangan waktu untuk bermain, bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Akibatnya keterampilan emosi dan sosial anak tidak berkembang.
- Seorang anak beranjak remaja yang menonton TV kira-kira sebanyak 15.000 jam, diperkirakan telah menyaksikan setidaknya 18.000 adegan pembunuhan dan 24.000 adegan kekerasan lainnya. Akibatnya, agresivitas dan kekerasan anak meningkat drastis. Anak-anak jaman sekarang menjadi lebih agresif dan lebih mungkin melakukan tindak kekerasan.
Saat ini, gim komputer menjadi sumber kecanduan anak yang lain. Anak betah berjam-jam, bahkan seharian di depan layar monitor untuk bermain gim. Ini tentu buruk buat anak. Bukan saja akan merusak kesehatan mereka, tapi lebih penting mereka jadi kehilangan kesempatan untuk bergaul dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Padahal berteman dan bermain bersama teman membekali anak keterampilan hidup bermasyarakat. Kebanyakan bermain gim juga membatasi ragam jenis permainan anak sehingga keterampilan anak tidak sepenuhnya berkembang.
Apa yang bisa dilakukan?
- Jika Anda sendiri gemar menonton TV, maka anak pun sudah sewajarnya meniru Anda. Usahakan sedikit mungkin menonton TV ketika anak Anda masih terjaga. Dan jangan menonton TV ketika anak Anda belajar.
- Ketat dengan jam tidur.
- Jangan jadikan TV sebagai alat penenang anak Anda. Biasanya orangtua menjadikan TV sebagai alat untuk membuat tenang anak, “Sudah duduk diam. Nonton TV saja”
- Temani anak Anda ketika dia diberi kesempatan menonton TV.
- Batasi waktu anak Anda bermain game. Sebaiknya putuskan bersama anak berapa lama waktu yang diperbolehkan, tapi sebaiknya maksimal 2 jam sehari. Tidak ada toleransi perpanjangan waktu untuk itu.


Bagaimana cara mengatasi anak yang sudah terlanjur kecanduan main game? Terimakasih.
Bagaimana cara mengatasi siswa yang kecanduan game? dan apa akibatnya bermain game terlalu lama? thanks
Bagai mana cara mengatasi anak yg sudah terlajur kecanduan main game online agar tidak sering bermain ke warnet ? Tq
Cara menyembuhkan para pecandu game online.
Unsur yang paling penting adalah niat, kebulatan tekad dan kontrol diri untuk dapat terlepas dari kecanduan game online dan kembali menata kehidupan yang terganggu akibat kecanduan itu.
Setelah ada niat, kita pun perlu mengakui bahwa kita tidak berdaya melawan keingian untuk bermain dan mengakui bahwa hidup kita jadi tidak terarah dan tidak teratur akibat game online itu.
Berdoa, minta pertolongan dan kekuatan Tuhan untuk dapat lepas dari kecanduan ini.
Buatlah daftar alasan mengapa ingin menghentikan kecanduan game on-line. Kita dapat bertanya ke keluarga atau teman dekat untuk membantu kita melengkapi daftar itu. Tempelkan daftar ini di tempat yang mudah dilihat oleh kita untuk membantu menguatkan komitmen kita.
Buatlah rencana kapan kita mau berhenti sepenuhnya. Kontrol diri sangat penting dalam hal ini. Kurangi secara bertahap frekuensi bermain game online.
Tuliskan keuntungan yang dirasakan selama mengurangi dan membatasi bermain game online. Ketika kita kembali bermain tanpa mengenal batas waktu setelah kita berhasil berhenti bermain, bukan berarti rencana kita gagal. Hal itu wajar terjadi. Yang terpenting adalah kita belajar dari pengalaman kita agar hal itu tidak terjadi lagi.
Jujur saja, sangat susah untuk menghentikan kebiasaan bermain game jika sudah masuk ke tahap “Addicted”. Tapi ada yang ingin saya tanyakan:
1. Apakah prestasi belajarnya terganggu gara-gara game?
2. Apakah dia jadi suka bergadang or bangun telat gara-gara game?
3. Apakah sifatnya menjadi berubah? (Contoh: Suka berbohong, malas, sampai mencuri uang)
Karena ada sebagian orang yang mampu menyeimbangkan antara hak dan kewajibannya. Di satu sisi dia adalah gamer maniak, namun dia tidak mempunyai masalah di bidang prestasi akademik dan yang lainnya.
Kalau gaming sudah mempengaruhi prestasi dan merubah sifatnya, cobalah sharing dengannya mengenai masalah ini (jangan dimarahi, karena itu akan membuatnya semakin down dan akan lari ke game lagi). Kuncinya hanya satu, keterbukaan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa fenomena “Online Game” ini sudah masuk dan populer di kalangan anak sekolah. Untuk itu, cobalah browsing di Internet untuk mengetahui informasi mengenai game yang ia mainkan. Karena dengan mengetahui yang ia mainkan akan lebih mudah untuk sharing dengannya.
Satu lagi, kalau anda merasa keahliannya dalam bermain game cukup mahir, kenapa tidak menyalurkan bakatnya tersebut? Banyak turnamen game yang diselenggarakan hampir di setiap kota di Indonesia. Jika dia menang, maka anda telah menemukan bakatnya di bidang game yang awalnya anda pandang negatif. Siapa tahu dia akan menjadi juara nasional, dan membela Indonesia dalam kancah game di dunia Internasional?
Kalo berhenti secara total sih pasti sulit, mungkin adikmu suruh mikir aja dah, buat apa sih hambur hamburin uang hanya untuk karakter game doang? Apakah karakter game itu berguna untuk masa depannya hingga mungkin adek kamu sampe keluar duit buat dandanin tu karakter?
Trus suruh mikir juga emang nyari duit tu gampang apa? Aku yakin adek kamu tuh pasti pintar, cuma jadi males mikir aja gara gara tu game.
Coba kamu ajarin aja disiplin waktu, ada saatnya buat ngegame, dan ada saatnya buat belajar. Jujur, aku tuh termasuk GAMER, tapi aku tu gak sampe pada level ‘Addict. . !
Kalo pengen nyoba, alihin aja adek kamu dari game online ke game offline, ato kalo gitu ajak nonton film kek ato kegiatan menarik lainnya kaya ngeband, bikin lagu, dll yg dapat mengalihkan kebiasaan maennya.
Moga ngebantu:-)ER, tapi aku tu gak sampe pada level ‘Addict. . !
Kalo pengen nyoba, alihin aja adek kamu dari game online ke game offline, ato kalo gitu ajak nonton film kek ato kegiatan menarik lainnya kaya ngeband, bikin lagu, dll yg dapat mengalihkan kebiasaan maennya.
Saya pernah menjadi Addict Game Online, jujur saja.. bahkan seminggu bisa habis sampai Rp. 50.000,-
tapi kebiasaan itu sekarang sudah hilang, karena Orang tua saya yang memang melarang keras, dan saya menyadari tingkat akademik saya sangat menurun (Overall sebelum kecanduan dapet 88, setelah kecanduan menurun jadi 75)
begitu pula hubungan sosial saya, perilaku saya menjadi lebih agresif karena kecanduan game online (bahkan saya baru menyadarinya setelah disadari oleh teman saya)
sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan memainkan game online..
ini beberapa cara untuk menghilangkan kecanduan game online (walaupun tidak 100% )
1. buat tekad untuk adik anda, bicarakan sebaik-baiknya bahwa masih banyak pekerjaan yang bermanfaat dari pada bermain game online. (Membuat gambar seperti chara di game kita, atau membuat cerita fantasy.)
2. Ajaklah 1 hari saja, untuk tidak memainkan game online dan mengajaknya pergi atau jalan-jalan, biasanya orang yang sudah kecanduan akan berpikir. “Wah.. sia-sia banget ya, tiap hari main game terus, padahal diluar masih banyak hal yang lebih bagus.”
3. Buatlah daftar alasan mengapa harus mengurangi waktu bermain game online. (contoh : buat daftar berapa uang yang dikeluarkan, saat pergi ke warnet, atau membeli vocher. dan hitunglah, katakan pada adik anda “Kamu sudah mengeluarkan segini, hanya untuk game online!”
4. Beralih ke game offline, meskipun tidak seseru game online, setidaknya bisa mengatasi (Game PB -> CS, Seal -> FF)
5. biarkan dia merasa sendiri, seperti tidak mengacuhkannya, biasanya ini cara yang paling menyakitkan, tapi paling ampuh.
semoga membantu.
materi referensi:
How do you prove to exist?