Militansi di Indonesia

miloitantSaat ini hampir semua orang bersikap sama, mengalamatkan berbagai kejadian teror yang melanda dunia terhadap militansi. Seolah-olah militansi adalah sosok yang mengancam perdamaian dunia. Tanpanya seolah-olah dunia akan damai selamanya. Dengannya seolah-olah dunia damai tidak akan tercapai. Maka menjadi merasa absahlah untuk mengutuk, mengancam dan memberangus militansi, yang sesungguhnya merupakan bentuk militansi pula. Apa sebenarnya militansi? Mengapa militansi timbul?

Istilah militansi kembali populer belakangan ini. Kata-kata ini dipakai untuk menyimbolkan paham nonkompromis dengan pihak lain dan yang membenarkan pemakaian senjata dalam mencapai  tujuan. Sementara itu penganut semangat atau paham itu disebut militan. Bila penganut paham itu berupa kelompok sering disebut sebagai kaum militan. Militansi sendiri tidak dapat digolongkan sebagai sesuatu yang semata-mata negatif. Militansi para warga negara dalam membela Negara misalnya, selalu dianggap positif. Dalam tulisan ini, militansi yang dimaksud adalah militansi yang berkecenderungan melahirkan kekerasan di masyarakat.

Indonesia merupakan salah satu negara yang tertuduh melahirkan banyak kaum militan. Bukti-bukti ditunjukkan untuk membenarkan tuduhan itu. Serangkaian goncangan bom yang melanda Indonesia dan negara lain di Asia tenggara ditengarai merupakan kerja kaum militan yang berbasis di Indonesia. Tertangkapnya kelompok bom Bali, JW Marriot, kelompok Menado, sampai Al Ghozi di Philipina menjadikan posisi Indonesia sebagai produsen kaum militan mendapat pembenaran. Belum lagi militansi yang ditunjukkan oleh para pendukung partai. Seringnya tindakan kekerasan terhadap anggota partai politik tertentu oleh massa pendukung partai yang lain merupakan contoh jelas dari adanya militansi di negara ini. Dalam sejarah pemilu Indonesia hal demikian telah terbukti berkali-kali. Pertanyaan pentingnya adalah mengapa Indonesia bisa memproduksi kaum militan?

Ada beberapa penjelasan untuk menerangkan mengapa Indonesia menjadi produsen besar kaum militan. Pertama adalah buruknya kondisi sosial ekonomi Indonesia. Diketahui bahwa kemakmuran ekonomi berbanding terbalik dengan militansi yang muncul di masyarakat. Semakin rendah tingkat kemakmuran masyarakat, militansi yang timbul semakin tinggi. Jadi tidak mengherankan bila kekerasan antar kelompok banyak terjadi pada saat ekonomi masyarakat terpuruk. Semangat militansi dimunculkan sebagai strategi untuk menang dalam upaya perebutan sumber daya ekonomi dan sosial. Konsolidasi ke dalam kelompok diperkuat untuk menghadapi persaingan dengan kelompok lain. Bila menjelang pemilu kondisi ekonomi masyarakat dalam keadaan yang buruk, akan sangat mungkin kekerasan antar pendukung partai politik sangat besar. Entah kekerasan itu murni timbul karena gesekan di lapangan atau karena peranan tangan-tangan tertentu yang berkepentingan dalam upaya memperebutkan sumber daya ekonomi-politik tertentu.

Berkait dengan kondisi sosial ekonomi, sebab munculnya militansi dikarenakan pula perasaan deprivasi relatif yang dialami. Deprivasi relatif merupakan perasaan bahwa seseorang atau sekelompok orang tidak mendapatkan sebagaimana seharusnya didapatkan. Dalam bahasa sederhana, deprivasi adalah perasaan telah diperlakukan tidak adil. Kaum militan seperti para pelaku bom Bali mungkin merupakan produk dari kondisi ini. Mereka mengalami ketidakpuasan dan merasa diperlakukan secara tidak adil oleh pihak-pihak tertentu, baik pihak itu nyata ataupun tidak.

Pihak nyata penyebab ketidakadilan bisa berupa negara. Seperti kita tahu, pada masa orde baru represi pemerintah terhadap Islam sangat keras, hal ini sangat mungkin telah memunculkan barisan sakit hati dalam umat Islam. Dan dalam upaya perlawanan terhadap negara (baca; ketidakadilan) maka muncullah militansi dalam tubuh umat Islam di Indonesia. Sedangkan pihak tidak nyata yang dianggap penyebab ketidakadilan bisa berupa sistem sosial ekonomi. Dalam hal ini umumnya dialamatkan terhadap sistem ekonomi kapitalis yang dinilai telah memiskinkan umat Islam. Jadi, tidaklah mengherankan bila sasaran bom adalah tempat-tempat yang menjadi representasi sistem ekonomi kapitalis, seperti Paddy’s Cafe di Bali dan hotel JW Marriot dan Ritz Charlton di Jakarta.

Penyebab kedua adalah kemandegan dalam perbaikan kondisi masyarakat. Setelah sekian tahun reformasi, terbukti berbagai bobrok masyarakat dan negara tidak semakin berkurang. Cita-cita reformasi sepertinya malah menjauh. Korupsi semakin menggila, kondisi ekonomi memburuk, kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela. Sementara itu pemerintah yang diharapkan mengatasi hal-hal tersebut seperti tidak berdaya. Keadaan demikian menimbulkan frustrasi dalam masyarakat. Salah satu akibat frustrasi adalah munculnya semangat perlawanan terhadap hal-hal tersebut, dan sebagai bekal melakukan perlawanan muncullah militansi. Ketidakmampuan pemerintah bisa melahirkan berbagai tindakan yang mengabaikan keberadaan negara dalam upaya perbaikan kondisi masyarakat. Tentu saja tidak semua perlawanan dilakukan dengan jalan damai. Militansi yang tumbuh karena frustrasi melahirkan berbagai tindakan keras terhadap pihak-pihak tertentu yang dianggap merusak masyarakat, seperti tempat hiburan, rumah judi, rumah bordil dan lainnya.

Penyebab ketiga adalah budaya kolektif bangsa Indonesia, di mana kelompok menjadi referen utama dalam segala sesuatu, baik sikap maupun perilaku. Bila telah mengidentifikasikan diri pada satu kelompok maka akan menganggap kelompok sebagai segala-galanya. Apa yang baik untuk kelompok

baik pula untuk dirinya. Keadaan ini sudah cukup untuk melahirkan militansi, apalagi ditunjang rendahnya kesadaran akan pluralitas semakin memungkinkan untuk muncul dan berkembangnya militansi di masyarakat. Rendahnya kesadaran akan pluralitas merupakan efek dari pendidikan yang menekankan keseragaman pada waktu lalu dan yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Militansi para pendukung partai politik agaknya terutama ditimbulkan oleh keadaan ini.

Penyebab keempat adalah pertikaian antar kelompok yang kerap terjadi. Pertikaian antar kelompok melahirkan militansi dalam kaitannya untuk mempertahankan diri dan memenangkan kelompok dalam pertikaian tersebut. Hubungan militansi dengan pertikaian antar kelompok seperti lingkaran setan. Militansi bisa melahirkan kekerasan dan kekerasan umumnya melahirkan militansi. Contoh dari hal ini mudah dilihat dalam kasus kekerasan di Ambon beberapa waktu lalu dimana berbagai kelompok militan muncul dalam kekerasan tersebut.

Demikianlah keempat sebab di atas dan variasinya telah menjelaskan mengapa Indonesia menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya para militan. Semua faktor tersebut merupakan situasi Indonesia yang membuat militansi mendapatkan tempat tumbuh berkembang. Sebenarnya ada satu faktor sangat penting lainnya (barangkali yang terpenting dari semua penyebab) yang berperan dalam menumbuhkan militansi yakni pengajaran ideologi yang kaku (baca: garis keras), yang merupakan sebab permunculan berbagai militansi dalam berbagai agama di berbagai belahan bumi. Namun saya kira faktor ini bukan merupakan situasi khas Indonesia.

Beri Komentar