Prasangka dan kehidupan sosial

socilifeSebuah penelitian menunjukkan bahwa tidak kurang dari 80% manusia berprasangka terhadap kelompok lain. Ada yang memprasangkai kelompok tertentu saja, ada juga yang berprasangka terhadap beberapa kelompok sekaligus. Coba anda ingat-ingat, kepada siapa saja prasangka anda ditujukan. Bisa saja kepada pemeluk agama lain, kepada warga desa tetangga, kepada warga RT sebelah, kepada penghuni rumah sebelah, kepada mantan tahanan politik, kepada mantan narapidana, kepada perempuan, kepada laki-laki, kepada dukun, kepada politisi, kepada aparat kepolisian, kepada waria, kepada gay, kepada etnik lain, kepada pegawai perusahaan lain, kepada warga daerah tertentu, kepada jenis usaha tertentu, dan lainnya. Pendek kata, semua kelompok yang ada bisa diprasangkai. Jadi, tentu saja prasangka ada dalam hidup kita sehari-hari.

Sebagai sebuah sikap, bagaimana prasangka dalam suatu masyarakat bisa dilihat? Apakah diperlukan suatu pengukuran sikap sebagaimana yang biasa dilakukan psikolog?  Mengetahui prasangka yang berkembang dalam suatu masyarakat tidaklah harus serumit itu. Secara sederhana, kita bisa mengetahui adanya prasangka melalui berbagai bentuk manifestasinya, seperti berkembangnya stereotip buruk terhadap kelompok lain, diskriminasi dan pengucilan, penolakan terhadap kelompok lain, dan berbagai ungkapan lainnya. Semua hal itu bisa diobservasi di lapangan. Stereotip negatif misalnya bisa dilihat melalui ungkapan verbal yang biasa ditujukan terhadap suatu kelompok tertentu, melalui joke-joke yang beredar dan juga melalui tulisan-tulisan.

Apakah efek prasangka terhadap hubungan sosial?

Bagaimana prasangka mempengaruhi perilaku sosial kita? Setidaknya ada tiga bentuk tindakan sebagai respon terhadap adanya prasangka, yakni penghindaran, perlawanan dan penerimaan. Pertama, penghindaran. Sebagai contoh anda mungkin sering mendengar bahwa etnis Cina ekslusif, tidak mau bergaul, rumahnya selalu tertutup dan seterusnya. Hal itu merupakan efek prasangka. Seorang etnis Cina yang berprasangka terhadap etnis lain cenderung untuk tidak mau bergaul dalam lingkungan sosial. Mereka menarik diri dari pergaulan sosial. Efek Baliknya adalah penguatan prasangka yang dimiliki etnis lain terhadap etnis Cina. Sebaliknya prasangka etnis Cina terhadap etnis lain dilestarikan karena kurangnya kontak yang akrab antar etnis.

Prasangka menyebabkan seseorang enggan bertemu dengan yang diprasangkai.   Penghindaran itu beraneka macam, misalnya menghindari jalan-jalan yang banyak digunakan oleh kelompok lain, tidak mau bekerja sama dengan kelompok lain, selalu menutup pintu rumah, tidak mau berbicara dengan kelompok lain, menghindari terjadinya pernikahan dengan kelompok lain, dan lainnya. Akibatnya tidak pernah terjalin keakraban sosial antar kelompok. Maka, menghindari terhadap objek prasangka semakin meneguhkan prasangka yang ada.

Kedua, perlawanan. Bentuk respon kedua terhadap prasangka adalah perlawanan, yang berarti melakukan tindakan negatif tertentu yang diarahkan pada kelompok yang diprasangkai. Kelompok yang menjadi objek prasangka akan dilawan melalui tindakan agresif seperti menyerang, memaki, menghina, dan lainnya. Mereka secara konfrontatif menghadapi pihak-pihak yang diprasangkai. Sering terjadinya konflik antar kelompok, baik berupa konflik terbuka maupun konflik tertutup merupakan penanda penting bahwa terdapat prasangka yang tinggi di sana.

Ketiga, penerimaan. Respon ketiga terhadap prasangka adalah penerimaan, yaitu kondisi dimana pihak-pihak yang berprasangka menerima dan mengakui adanya prasangka diantara mereka. Anda mengakui diri anda berprasangka, orang lain juga mengakui berprasangka. Kehadiran kelompok yang diprasangkai diterima karena tak terhindarkan dalam pergaulan sosial. Dalam kondisi ketiga ini, prasangka terpelihara namun tidak menimbulkan konflik secara terbuka dengan etnik lain. Dalam posisi penerimaan ini pula prasangka bisa dikurangi karena adanya kesadaran masing-masing bahwa satu sama lain saling mencurigai tanpa dasar yang jelas.

Apakah prasangka bisa dibenarkan secara moral?

Tidak ada tata moralitas manapun yang membenarkan prasangka. Nyaris semua tatanan moral menyebutnya sebagai keburukan manusia. Tidak ada toleransi moral terhadapnya. Artinya, prasangka memang sebuah keburukan yang harus dihindari. Moralitas agama-agama malah menyebutnya sebagai  dosa. Prasangka disebutkan sebagai penyakit hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, padanan kata prasangka minimal ada 3, yakni curiga, buruk sangka, dan su’udzon (berasal dari bahasa arab). Semuanya dinilai buruk. Setiap orang diharapkan untuk berlaku sebaliknya, yakni percaya, baik sangka dan uz’nudzon. Tapi toh, meski demikian, prasangka adalah sesuatu yang masif terjadi dalam kehidupan sosial. Jika penelitian yang menunjukkan 80% orang berprasangka itu memang benar, hanya kurang dari 20% manusia yang tidak berprasangka. Merekalah, yang 20% itu, yang mampu menjadi penyeimbang dalam kehidupan sosial.

Sejumlah 20% orang yang tidak berprasangka akan menjadi wasit bagi mereka yang berprasangka. Perbandingannya 1 berbanding 5. Jika yang 4 orang berprasangka, maka ada satu orang yang diharapkan bisa meredamnya. Bisa dengan cara mengingatkan jika orang berprasangka, memberi contoh tindakan penuh toleransi tanpa prasangka, atau yang lain.

 

Apa kaitan prasangka dan pengkambinghitaman?

Prasangka bisa menimbulkan pengkambinghitaman, yakni Anda menyalahkan pihak lain sebagai penyebab keadaan diri anda yang tidak memuaskan.

Pernahkah anda menyalahkan seseorang karena kesulitan yang anda derita? Bisa jadi anda menyalahkan dirinya tanpa ada bukti apa-apa. Misalnya karena anda rugi dalam berusaha, lantas anda menyalahkan pembantu-pembantu anda yang kebetulan berbeda agama dengan anda. Anda mengira mereka bersekongkol karena tidak suka anda yang agamanya berbeda dengan mereka. Pembantu anda adalah kambing hitam atas kegagalan anda, semata-mata karena mereka anda prasangkai.

Pengkambinghitaman biasa terjadi dalam kehidupan sosial. Adanya kerusuhan, lantas mengkambinghitamkan kelompok yang diprasangkai sering berbuat onar. Padahal kelompok yang diprasangkai tidak tahu apa-apa. Adanya bencana, lantas mengkambinghitamkan kelompok yang diprasangkai telah banyak melakukan dosa. Padahal, tentu saja tidak ada hubungannya antara bencana dengan dosa. Misalnya, pada saat gempa bumi melanda Yogyakarta, ada saja yang mengkambinghitamkan pelaku selingkuh dan waria sebagai penyebab karena merekalah para pelaku dosa.

Komentar
  • jaenal mutakim:

    luar biasa ya prasangka ini.. kira-kira apa akar dari prasangka ini ya? lalu bagaimana cara meminimalisir prasangka yang ada pada diri kita agar kita termasuk kedalam orang yang 20%?

Beri Komentar