Sakitnya “Pendidikan” Kita

contekHari ini saya benar-benar kaget, terperanjat, sekaligus takjub. Saya membaca beberapa berita yang isinya benar-benar mengguncang hati: “Seorang yang bertindak jujur melaporkan adanya contekan massal di sekolah anaknya, malah diancam diusir oleh warga desa yang memiliki anak di sekolah itu. Para orangtua murid itu marah karena kuatir akibat pencontekan itu maka anak-anak mereka tidak diluluskan.” (silakan browsing berita itu, kejadiannya di Surabaya beberapa waktu lalu dan sempat menjadi berita hangat di suratkabar dan TV).

Sulit untuk mengelak dari pernyataan bahwa “Pendidikan” kita memang tengah sakit, kalau bukan sekarat. Hari-hari ini kita rupanya tengah menuai buah dari apa yang kita lakukan untuk pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir. Apa yang ditakutkan oleh ahli antropologi kita, Koentjaraningrat, sejak awal 70-an tentang mental “menerabas”, tidak pernah kita antisipasi apalagi kita siasati. Jadilah maka, pendidikan yang mengabaikan ‘proses’ dan hanya mengutamakan ‘hasil. Alhasil, kejujuran tidak pernah menjadi bagian dari pendidikan kita. Contek mencontek telah menjadi bagian lazim dari pendidikan kita di semua level. Tak saya pungkiri, saya pun termasuk generasi yang sering mengalami ‘contek-contekan’ itu. Bahkan pernah juga suatu kali contekan diumumkan massal di depan kelas oleh guru. Sampai-sampai, seorang kawan pernah mengatakan: “ngapain belajar susah-susah, nanti juga pasti diberi contekan.”

Hari ini membaca berita ‘contekan massal di Surabaya” itu, saya kembali teringat kata-kata seorang kawan kuliah S2 dulu (dan belum juga lulus kini), Linda. Dia bilang tidak akan menyekolahkan anak-anaknya kelak di sekolah negeri. Bukan karena sekolah negeri kualitas pengajarannya tidak bagus. Justru sekolah negeri seringkali jauh lebih bagus. Yang dia takutkan adalah rendahnya pendidikan karakter di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Dia ceritakan tentang bagaimana ketidakjujuran telah menjadi bagian integral di sekolah-sekolah. Dia ungkapkan keprihatinannya tentang bagaimana ‘fairness” tidak menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Baru kali ini saya bisa mengatakan 100% setuju dengannya.

Pendidikan yang tidak jujur telah menuai hasilnya. Dulu kebanyakan orang masih malu-malu mengakui bahwa “contekan” telah dilakukan. Kini kita terbuka membelanya. Mereka yang melaporkan pencontekan justru kita jadikan pesakitan. Kita cerca mereka secara terbuka sebagai sok suci, yang hanya merugikan semua orang. Dan gejala ini, rupa-rupanya gejala bangsa kita di hari-hari belakangan ini dalam semua hal.

Saya teringat dengan kisah raja Lear yang masyhur itu. Alkisah, semua rakyat di kerajaannya meminum air dari satu sumur yang sama. Pada suatu ketika, entah bagaimana asal muasalnya, sumur itu tercemar. Siapa yang meminumnya menjadi gila. Cara berpikirnya terbalik-balik. Oleh karena seluruh rakyat di kerajaannya hanya memiliki satu sumur itu sebagai sumber air, maka tak lama kemudian semua rakyatnya pun menjadi gila. Akan tetapi, bagi rakyat, raja-lah yang gila karena tidak berpikir seperti mereka. Rakyat mulai mencipta huru-hara dan protes karena sang raja berpikir kurang waras, yakni selalu bertentangan dengan cara pikir semua rakyatnya. Melihat gejala itu, rajanya pun akhirnya mengambil keputusan untuk meminum air sumur tercemar, dan maka sang raja seperti rakyatnya. Maka rakyatnya pun bersorak sorai karena raja telah menjadi seperti mereka. Jadilah semuanya normal, tidak ada lagi yang waras dan yang gila.

Jangan-jangan, kita ini sedang seperti dongeng kuno itu.. jangan-jangan…. sebab kita semua minum dari sumber air yang sama: ‘pendidikan yang sakit’ !

Achmanto Mendatu

Komentar
  • Doniarta:

    sebaiknya pendidikan jangan di interverensi dengan politik .Ingin jadi kepala daerah menjanjikan pendidikan gratis dari SD hingga SLA (bagus bagus ). Setelah menjadi kepala daerah untuk menunjukkan keberhasilannya di dunia pendidikan saat UN siswanya boleh nyontek wajib bawa hand phone, pengawas UN yang jujur besok tidak boleh ngawas lagi, alhasil termasuk ranking 10 besar tingkat propinsi, masyarakatnya bersorak gembira.Duh Gusti paringono eling lan pangapuro kawontenan ndoya kok sampun edan sedoyo.

  • Buneng:

    system nya juga yang kadang acak adut….penilaian g hanya Nilai Akademik z ,mestinya pendidikan karakter,sikap,kepribadian,masuk dalam Penilaian,,kebijakan mestinya ada di sekolah tsb .

  • menurut saya,,dalam hal seperti ini nilai kejujuran tak begitu penting lagi bagi manusia, buat mereka tercapainya keinginan adalah hal yang memuaskan tanpa memikirkan bagaimana proses pencapaian tersebut yang mengabaikan nilai kejujuran,pada kenyataannya hal ini sangat berpengaruh pada psikologis anak,karena mereka menganggap bahwa berbohong itu adalah perbuatan yang wajar. hal ini tak luput dari kesalahan pendidik yang tidak mengajarkan kepribadian yang baik kepada peserta didiknya, harusnya kita mulai dari diri sendiri untuk menjadi lebih baik,karena seorang guru merupakan figur yang paripurna yang menjadi profil atau tauladan bagi anak didiknya. sistem pendidikan mestinya juga diperhatikan sebagai salah satu faktor ternjadinya peristiwa seperti ini, tak lepas dari peran pemerintah, yang mestinya tidak menjadikan UN sebagai titik akhir penilaian bagi siswa yang selama 3 tahun menjalani proses pembelajaran.karena ini akan menjadi hal yang menakutkan dan mengkhawatirkan bagi siswa ataupun orang tua. sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan berpeluang besar dalam hal ini. mari kita perbaiki lagi hubungan sekolah dengan masyarakat,sekolah dengan pemerintahan,dan hubungan sekolah dengan orang tua murid.jalankan peran sebagai guru sesuai dengan pedoman kita yaitu Al-Qur’an.

Beri Komentar