Seberapa banyak emosi yang dimiliki manusia?

emosi5Bahasa yang berbeda memiliki jumlah kosakata emosi yang berbeda. Misalnya jumlah kata-kata emosi dalam bahasa inggris berbeda dengan jumlah kata-kata emosi dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Minangkabau. Namun demikian bukan berarti bahwa kosakata emosi yang lebih banyak maka memiliki jumlah emosi yang lebih banyak. Boleh jadi, emosi yang dialami sama, namun dalam bahasa tertentu hanya digunakan satu kata untuk menyebutnya, sedangkan dalam bahasa lain diterangkan lebih terperinci sehingga dipecah ke dalam beberapa kata.

Sulit untuk mengetahui jumlah emosi berdasarkan kata-kata emosi karena jumlahnya bervariasi dari satu bahasa ke bahasa lain. Namun sebagian ahli menyebutkan bahwa emosi sebenarnya hanya terdiri dari sedikit emosi dasar saja. Selebihnya adalah perpaduan antara emosi-emosi dasar itu. Misalnya Paul Ekman, salah seorang peneliti emosi paling terkemuka, menunjukkan bahwa manusia memiliki 6 emosi dasar, yakni ‘fear’ (takut), ‘anger’ (marah), ‘sadness’ (sedih), ‘happines’ (bahagia), ‘disgust’ (jijik) dan ‘surprise’ (terkejut). Emosi dasar itu dipercaya dimiliki oleh semua manusia dari budaya manapun juga.

Selain membedakan emosi berdasarkan emosi dasar atau primer dan emosi turunan atau sekunder. Emosi juga bisa dibedakan satu sama lain dengan kategori tertentu. Istilahnya adalah peta emosi. Salah satu pengategorian emosi yang cukup bermanfaat adalah dengan membedakan emosi berdasarkan skenario kognitif yang dimiliki seseorang terhadap emosi yang dialami. Misalnya dibedakan berdasarkan kejadian-kejadian yang menyebabkan emosi, berdasarkan nilai positif dan negatif, berdasarkan kedekatan makna antara kata-kata emosi, dan lainnya.

Pembagian emosi berdasarkan nilai positif dan negatif.

Emosi bisa dibedakan dalam nilai positif dan negatif.  Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak jelas posisinya. Kadang bisa sebagai emosi positif kadang bisa sebagai emosi negatif, seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif berperan dalam memicu munculnya kesejahteraan emosional (emotional well-being) dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi negatif. Jika emosi Anda positif, maka Anda akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. Misalnya saat Anda sedang merasa bahagia, tiba-tiba ada yang memaki Anda, maka Anda lebih sulit untuk tersinggung. Emosi-emosi yang bernilai positif diantaranya adalah sayang, suka, cinta, bahagia, gembira, senang, dan lainnya.

Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang mengganggu individu maupun masyarakat. Biasanya, orang menekankan pada emosi yang negatif. Anda cenderung untuk lebih memperhatikan emosi-emosi yang bernilai negatif. Misalnya sedih, marah, cemas, tersinggung, benci, jijik, muak, prasangka, takut, curiga dan sejenisnya. Bukankah emosi-emosi itu mengganggu Anda? Mereka yang mudah tersinggung, gampang marah-marah, dan berprasangka tidak akan disukai masyarakat. Mereka yang mengalaminya pun tidak akan merasakan sejahtera dalam hidupnya.

Emosi positif dan negatif sangat mempengaruhi perasaan sejahtera seseorang. Orang yang memiliki banyak emosi positif dan kurang memiliki emosi negatif biasanya merupakan orang-orang yang berbahagia atau sejahtera dalam hidupnya. Sedangkan mereka yang lebih banyak memiliki emosi negatif hidupnya kurang sejahtera. Selain oleh emosi, perasaan sejahtera juga ditentukan oleh kepuasan hidup. Jika seseorang merasa bahwa hidupnya secara keseluruhan memuaskan, maka ia akan mengalami sejahtera (kehidupan yang berbahagia). Singkatnya, seseorang yang memiliki derajat tinggi akan perasaan sejahtera adalah ia yang puas terhadap hidupnya, banyak mengalami emosi yang positif dan kurang mengalami emosi yang negatif.

Pembagian emosi berdasarkan skenario kognitif

Manusia mengategorisasikan segala sesuatu di dunia ini. Begitulah pikiran atau kognisi manusia bekerja. Kategorisasi. Emosi tidak luput dari kategorisasi. Itu artinya, terdapat struktur kognitif dalam emosi, yakni cara bagaimana emosi dibedakan satu sama lain. Sekurangnya terdapat 3 cara dalam membedakan emosi, yakni perbedaan yang terlihat dengan adanya kata-kata emosi yang banyak jumlahnya itu, membedakan berdasarkan kejadian anteseden (yang menimbulkan emosi) dan manifestasi emosi (tanda-tanda munculnya emosi), dan berdasarkan konstruksi peneliti sendiri.

Anna Wierzbicka, seorang peneliti emosi dari Australian National University, membedakan emosi ke dalam 6 kelompok utama yang didasarkan pada tema-tema umum, yakni 1) “Sesuatu yang baik terjadi”, 2) “Sesuatu yang buruk terjadi”, 3) “Sesuatu yang buruk bisa/akan terjadi”, 4) “Saya tidak ingin hal seperti ini untuk terjadi’, 5) ‘berpikir tentang orang lain”, 6) “Berpikir tentang diri sendiri”. Masing-masing dari tema itu terkait dengan beberapa aspek skenario kognitif yang  dimiliki.

Sesuatu yang baik terjadi

Jika Anda mengalami sesuatu yang baik terjadi dalam hidup Anda, misalnya Anda mendapatkan undian, diterima bekerja, mendapatkan kekasih, menggapai impian, maka kira-kira emosi apa yang akan Anda alami? Anda tentu akan merasa bahagia, senang, gembira, suka, riang, damai, nyaman,  nikmat, lega, dan semacamnya.

Sesuatu yang buruk terjadi

Bayangkan jika Anda berada dalam situasi yang buruk? Misalnya Anda dipecat, dimarahi atasan, dikhianati dan sebagainya yang buruk-buruk. Apa yang kira-kira Anda rasakan? Boleh jadi Anda mengalami kesedihan, tertekan, menderita, sakit hati, frustrasi, kecewa, merasa ditolak, atau lainnya yang semacam.

Sesuatu yang buruk bisa/akan terjadi

Jika seseorang merasa bahwa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Misalnya bisa kehilangan orang disayang, kehilangan penghasilan, dirampok, diperkosa, dan sebagainya yang buruk-buruk, maka Anda mungkin mengalami cemas, panik, takut, khawatir, gugup, pucat, was-was, waspada, atau lainnya.

Saya tidak ingin hal seperti ini terjadi

Saat Anda tidak menginginkan sesuatu yang Anda alami terjadi, apa yang Anda rasakan? Anda ingin yang terjadi tidak seperti yang Anda alami. Nah, karena itu maka mungkin Anda merasa marah, panas hati, murka, terkejut, atau yang lainnya.

Berpikir tentang orang lain

Pada saat Anda memikirkan orang lain, apa saja yang mungkin Anda rasakan? Boleh jadi Anda merasa iri atau cemburu. Mungkin saja Anda merasa kasihan. Bisa juga Anda merasa kagum, salut, terpesona, segan, hormat, curiga, benci, sinis, atau bahkan jijik.

Berpikir tentang diri sendiri

Anda juga akan mengalami emosi tertentu ketika berpikir tentang diri Anda sendiri. Coba Anda ingat-ingat apa saja emosi yang biasanya muncul karena berpikir tentang diri sendiri itu. Bisa jadi Anda merasa malu, bingung, merasa bersalah, menyesal, bangga atau yang lainnya.

Apakah sungkan emosi khas orang Jawa?

Dalam kosakata bahasa Jawa terdapat kata ‘sungkan’. Hampir tidak ada satu pun padanan kata ‘sungkan’ dalam bahasa lainnya. Tidak juga dalam bahasa Indonesia. Kata dalam bahasa Indonesia yang mendekati sungkan adalah malu, enggan, segan, dan hormat. Tapi tidak ada yang maknanya benar-benar persis sama. Oleh karena itu kemudian kata ‘sungkan’ diserap menjadi kata dalam bahasa Indonesia.

Terkait tidak adanya padanan yang sesuai dalam bahasa lain, maka sering disebut bahwa ‘sungkan’ adalah emosi yang khas dimiliki oleh orang Jawa. Orang bukan Jawa dianggap tidak memiliki emosi itu. Sekurang-kurangnya tidak membedakan adanya emosi sungkan.

Apakah arti sungkan? Emosi ‘sungkan’ adalah nama untuk suatu keadaan dimana seseorang merasa enggan, segan juga malu, sekaligus ada rasa hormat. Sungkan mencegah seseorang melakukan sesuatu yang tidak layak dilakukan. Misalnya Anda memiliki piutang pada teman Anda, Dono. Namun Anda enggan menagihnya karena Dono teman Anda. Anda malu menagihnya karena sebagai teman Anda merasa tidak layak menagih. Anda segan kepadanya karena teman Anda. Pun artinya Anda menghormati Dono. Nah, perasaan-perasaan yang bercampur aduk itulah yang disebut sebagai sungkan. Artinya, sungkan mencegah Anda untuk menagih hutang karena tidak layak dilakukan.

Komentar
Beri Komentar