Strategi Mengurangi Prasangka
Prasangka merupakan faktor yang potensial menciptakan konflik dalam kehidupan sosial. Tidak akan ada kehidupan sosial yang damai dan saling dukung bila prasangka hadir di tengah masyarakat. Anda tentu juga tidak akan nyaman jika terus menerus dirundung prasangka terhadap orang lain. Kekerasan sangat mungkin muncul jika prasangka dibiarkan. Dalam rangka membentuk sebuah kehidupan bersama yang nir kekerasan dan damai, rendahnya prasangka merupakan prasyarat penting. Bayangkan kehidupan dimana setiap orang berprasangka pada yang lain. Tidak ada percaya diantara sesama anggota masyarakat. Pasti ‘chaos’ yang terjadi.
Kita tahu, bahwa prasangka akan muncul dalam kondisi rendahnya pemahaman lintas budaya di masyarakat. Sementara itu, pemahaman lintas budaya adalah sendi dari sebuah masyarakat multietnik yang sehat, dimana setiap orang sadar akan perbedaan dan menghargai perbedaan itu. Pemahaman lintas budaya merupakan kemampuan seseorang untuk memahami perbedaan dan sadar akan adanya perbedaan budaya, serta mampu menerima adanya perbedaan itu. Pada hakekatnya mengurangi prasangka sama artinya dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya. Menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan upaya-upaya mengurangi prasangka lainnya, bisa dilakukan di segenap aspek kehidupan, dimulai dari keluarga, lingkungan pertetanggaan, sekolah, organisasi, dan masyarakat secara lebih luas.
Upaya mengurangi prasangka bisa dilakukan dalam banyak cara. Sekurangnya ada empat strategi yang bisa digunakan. Pertama, melalui rekayasa dalam hubungan antar kelompok. Kedua, melalui sosialisasi anti prasangka dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan. Ketiga, melalui rekayasa sosial. Terakhir, melalui penyadaran diri pribadi. Semua strategi tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.
Mengurangi prasangka melalui hubungan antar kelompok
Menurut salah satu teori hubungan antar kelompok yakni ‘the contact hypothesis’, diasumsikan bahwa anggota kelompok yang berbeda bila melakukan interaksi satu sama lain akan mengurangi banyak prasangka antara mereka, dan menghasilkan sikap antar kelompok dan stereotip yang lebih positif. Semakin banyak dan erat interaksi yang terjadi maka prasangka dan stereotip negatif akan semakin berkurang.
Tidak semua interaksi bisa mengurangi prasangka. Interaksi yang mengurangi prasangka harus memenuhi setidaknya empat syarat berikut :
1. Adanya dukungan sosial dan dukungan institusional.
Adanya kerangka sosial dan dukungan institusional bisa mendorong kontak lebih erat antara kelompok yang berlainan. Dukungan diberikan oleh pihak otoritas yang berwenang, dalam hal ini bisa pemerintah, sekolah, pemimpin organisasi, orangtua, dan lain-lain. Otoritas biasanya berada dalam posisi bisa memberi sanksi (dan rewards) untuk tindakan berparasangka. Jadi, misalnya ada anak berprasangka terhadap kelompok lain, orangtua bisa memberikan hukuman. Selain itu adanya peraturan yang tegas dari pihak otoritas tentang anti-diskriminasi, akan memaksa orang untuk berperilaku dalam perilaku yang tidak berprasangka.
2. Ada potensi untuk saling mengenal
“Orang Cina itu pelit, sombong, nggak mau bergaul, seringkali licik” ujar Vivi, seorang etnis Jawa berkomentar tentang etnik Cina “Kecuali Dewi dan Diana, mereka baik, tidak seperti orang Cina lainnya” tambahnya melanjutkan. Dewi dan Diana adalah dua orang teman dekat Vivi yang beretnis Cina.
Apa yang dikatakan Vivi merupakan tipikal yang umumnya dilakukan oleh orang-orang. Mereka memiliki stereotip negatif terhadap kelompok lain, tetapi menolak bila orang yang dikenalnya secara akrab, yang berasal dari kelompok bersangkutan memiliki stereotip-stereotip itu. Cerita itu menggambarkan bahwa stereotip negatif dan prasangka tumbuh karena ketiadaan pergaulan yang erat dan akrab antar pribadi diantara kelompok yang berbeda.
Hubungan antar etnik yang memungkinkan saling mengenal secara pribadi antar anggota kelompok yang berlainan bisa mengurangi prasangka secara signifikan. Hubungan itu mesti dalam waktu yang cukup, dengan frekuensi yang tinggi, dan adanya kedekatan yang memungkinkan peluang membangun hubungan erat dan bermakna antara anggota kelompok yang berkaitan. Apabila hubungan antar anggota kelompok tidak memungkinkan terjalinnya hubungan akrab maka kurang bisa mengurangi prasangka antar kelompok.
Ada tiga alasan mengapa potensi untuk saling mengenal penting guna mengurangi prasangka. Pertama, membangun hubungan interpersonal yang fair dan dekat menimbulkan pikiran untuk menghargai orang lain secara positif, dan diharapkan digeneralisasikan ke keseluruhan kelompok. Kedua, akan memungkinkan menerima info baru yang lebih akurat tentang kelompok lain yang menjadikan orang sadar bahwa kenyataannya ada banyak kesamaan antara kelompok yang berbeda. Menurut hipotesis similarity-attraction, kesamaan-kesamaan yang dipersepsi seseorang dengan orang lain dari kelompok lain akan meningkatkan kesukaan pada kelompok tersebut. Ketiga, seseorang akan menemukan bahwa stereotip negatif kelompok lain tidak benar. Hal mana akan mengubah pandangan seseorang terhadap kelompok lain.
3. Adanya status yang setara antara pihak-pihak yang berinteraksi
Dalam masyarakat, organisasi, sekolah, atau yang lain, harus ada status yang setara antara pihak-pihak yang berprasangka sebelum terjadi interaksi. Jika satu kelompok lebih dominan dibanding kelompok lain, maka interaksi antar kelompok belum tentu dapat mengurangi prasangka. Misalnya bila satu kelompok selalu berada dalam posisi berkuasa dan selalu menjadi bos, sedangkan yang lain yang dikuasai maka hubungan antar kelompok kurang bisa mengurangi prasangka
4. Adanya kerjasama
Sebuah interaksi akan mengurangi prasangka jika interaksi yang terjadi berbentuk kerjasama bukannya konflik. Dalam kerjasama itu, juga harus terjadi ketergantungan. Mendasarkan pada teori realistic-group conflict theory, harus ada alasan instrumental untuk bekerjasama dan membangun persahabatan. Tujuan bersama biasanya harus konkret, skala kecil, dan bisa dilakukan bersama-sama. Contohnya pada saat banjir, semua orang bekerja sama untuk menanggulangi. Interaksi semacam ini bisa mengurangi prasangka.
Mengurangi prasangka melalui sosialisasi
Sosialisasi nilai-nilai nir prasangka bisa dilakukan di rumah atau keluarga, di sekolah maupun di masyarakat. Salah satu media sosialisasi nilai-nilai toleransi adalah media massa, baik berupa TV, radio, internet, media cetak seperti buku, majalah, koran, buletin dan lainnya. Prasangka antar kelompok akan berkurang jika media-media itu mampu memberikan informasi yang positif tentang berbagai kelompok dalam masyarakat. Sayangnya, banyak media malah berperilaku buruk dengan menjelek-jelekkan kelompok tertentu. Akibatnya prasangka antar kelompok bisa tambah menguat.
Keluarga adalah faktor yang sangat penting dalam sosialisasi nilai-nilai yang mendorong anak-anak tidak berprasangka. Hanya memang, keluarga tidak menjadi satu-satunya faktor yang dominan. Bisa jadi keluarga yang telah mendorong sikap berprasangka tetap tidak berhasil membuat anak tidak berprasangka karena sekolah atau teman-teman sebayanya tidak mendukung upaya itu. Demikian juga sebaliknya, upaya sekolah untuk mengurangi prasangka mungkin tidak akan berhasil jika di rumah situasi keluarga tidak mendukung.
Keluarga yang memiliki prasangka tinggi terhadap kelompok lain akan cenderung melahirkan anak-anak berprasangka. Idiom-idiom bahasa penuh prasangka yang digunakan dalam komunikasi menjadi sarana pewarisan prasangka. Sebagai misal, meskipun anak-anak etnis Jawa tidak pernah bertemu dengan agama lain, tetapi bila sang orangtua terus menerus mengatakan pada anak-anak secara negatif tentang agama lain maka anak-anak juga akan mengembangkan perasaan negatif pada agama lain itu.
Anak-anak belajar melalui identifikasi atau imitasi, atau melalui pembiasaan. Apa yang dilakukan orangtua, anggota keluarga lain dan semua yang dilihat anak-anak akan ditiru. Misalnya orang tua sering mengata-ngatai tetangganya yang waria dengan kata-kata “dasar bencong”, maka sang anak juga akan meniru dan mengembangkan perasaan tidak suka terhadap waria secara keseluruhan.
Ada beberapa cara yang mungkin berguna dalam upaya mendidik anak-anak dalam keluarga agar memiliki pemahaman lintas budaya yang tinggi, yang pada gilirannya akan mengurangi prasangka, yaitu :
- Berkata tidak pada komentar yang merendahkan etnis tertentu. Orangtua harus tegas menyatakan sikap tidak senang, kalau perlu disertai hukuman secara konsisten atas kata-kata rasis-diskriminatif-etnosentris yang diucapkan anak-anak. misalnya menegur anak-anak yang berkata-kata mengumpat teman lainnya dengan kata-kata menghina berdasarkan agama, seperti “dasar kristen”,”dasar islam”, dan lain-lain.
- Menyediakan bacaan yang berpotensi menumbuhkan kesadaran akan pluralitas, misalnya dongeng-dongeng dari berbagai etnik dari seluruh nusantara.
- Lebih mendorong dengan pujian jika anak berhasil menjalin hubungan perkawanan dengan anak dari kelompok lain, misalnya dari etnik lain dan agama lain.
- Tidak mentoleransi adanya perlakuan diskriminatif oleh anak-anak pada teman-temannya hanya karena didasarkan pada latar belakang kelompoknya. Misalnya mendiskriminasi orang cacat atau agama lain harus diberi teguran keras, kalau perlu hukuman.
Mengurangi prasangka melalui rekayasa sosial
Prasangka antar kelompok tidak hanya disebabkan oleh faktor psikologis semata, tapi juga oleh faktor lainnya, seperti sejarah, ekonomi, politik, budaya, dan struktur sosial. Karenanya diperlukan adanya political will yang kuat dari pemerintah untuk melakukan upaya-upaya mengurangi prasangka. Sebab hanya pemerintah yang memiliki kemampuan melakukan rekayasa sosial secara luas dan memaksa, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial. Misalnya, tidak dapat dipungkiri, pemberlakuan desentralisasi politik menguatkan semangat kedaerahan, dan etnosentrisme. Keadaan ini dapat menimbulkan dan memperkuat prasangka etnik. Semangat penonjolan identitas etnik itu perlu diberi ruang partisipasi dalam tatanan kebijakan publik.
Kita tahu, ekonomi memainkan peran hubungan antar kelompok dalam masyarakat. Pola-pola hubungan ekonomi yang tidak adil bisa menimbulkan prasangka. Penguasaan kelompok tertentu akan sumber daya ekonomi bisa menggiring kelompok lain untuk berprasangka, dan berpotensi menimbulkan konflik. Oleh karena itu pemerintah harus merencanakan pemberdayaan ekonomi rakyat secara adil.
Pada sisi lain, prasangka tetap lestari karena adanya pihak-pihak yang mengambil keuntungan darinya. Seperti yang telah dikemukakan di muka, keuntungan itu bisa bersifat ekonomis maupun politis. Misalnya saja, adanya prasangka terhadap etnis lain mencegah etnis tersebut menerima kerjasama dari etnis lain itu, dan hal ini menguntungkan pihak-pihak tertentu yang mendapatkan kerjasama dan fasilitas dari etnis bersangkutan. Akibatnya pihak yang diuntungkan itu akan berusaha memelihara prasangka yang berkembang di masyarakat.
Mengurangi prasangka melalui penyadaran pribadi
Beberapa hal berikut akan membantu kita mengurangi prasangka yang kita miliki :
- Mengakui bahwa kita berprasangka dan bertekad untuk menguranginya.
- Mengidentifikasi stereotip yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
- Mengidentifikasi tindakan-tindakan yang merefleksikan atau menggambarkan prasangka kita dan mengubahnya.
- Mencari umpan Balik dari teman dan rekan yang berbeda-beda latar belakangnya tentang seberapa baik cara kita berkomunikasi, apakah terlihat cukup respek pada mereka dan menghargai perbedaan yang ada.

