Tipe pernikahan ditinjau dari kuat lemahnya kuasa
Menurut Shostrom dan Kavanaugh, sebagaimana yang dipublikasikan dalam “Self-Help Psychological Book”, terdapat 6 pola hubungan antar pasangan dalam hubungan cinta, baik dalam pernikahan maupun berpacaran. Mereka mengidentifikasi berdasarkan siapa yang kuat dan siapa yang lemah dalam hubungan itu, serta siapa yang memiliki cinta dan siapa yang memiliki kemarahan. Misalnya, istri yang kuat dan suami yang lemah bisa menjadikan hubungan cinta memiliki pola seperti ibu dan anak laki-lakinya. Sang istri berperan ganda. Dia menjadi ibu bagi anaknya plus menjadi ibu bagi suaminya.
Cermati masing-masing pola berikut. Setelah itu coba Anda bandingkan dengan hubungan cinta yang Anda alami. Jika Anda merasa diri Anda cocok dengan salah satu pola, maka itulah pola hubungan Anda dengan si dia.
Tipe 1. Model hubungan pengasuhan, seperti ibu dan anak laki-lakinya
Banyak laki-laki yang tetap menjadi seorang anak selamanya. Mereka selalu merindukan kehadiran figur seorang ibu yang mengasuh dirinya. Mereka tidak sanggup untuk berpisah dari figur ibu karena hanya merasa aman dengan adanya seseorang yang mengasuhnya. Jika tidak ada figur ibu pengasuh, maka dirinya merasa tidak aman. Nah, laki-laki yang bertipe demikian akan mencari pacar kemudian menikah dengan seorang perempuan yang bisa menggantikan peran ibunya. Dari sang pacar atau istrinya, dia akan merasa aman karena mendapatkan pengganti ibu.
Dalam pola ini, pihak perempuan berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya plus bagi suaminya. Dia memegang kendali rumah tangga. Jadi, meskipun merasa tidak cukup mampu, si perempuan tetap harus menjalankan biduk rumah tangga. Menyerahkan urusan rumah tangga pada suami hanya akan membuat runyam karena sang suami tidak sanggup untuk mandiri. Jika ada masalah yang timbul, sang istri harus sigap menyelesaikan dan menjadi pengayom bagi suaminya.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan pengasuhan. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan pengasuhan ini.
Jika Anda pihak laki-laki
- Saya hanya merasa aman bersama istri saya, karenanya saya tidak bisa berpisah jauh darinya.
- Saya selalu berharap istri saya menolong saya saat saya tertimpa masalah
- Saya tidak percaya diri jika melakukan sesuatu tanpa persetujuan istri saya
Jika Anda pihak perempuan
- Saya harus siap sedia menerima keluh kesah suami saya, lalu menghibur dan membangkitkan semangatnya.
- Saya harus selalu menunjukkan arah dan tindakan yang mesti diambil suami saya.
- Saya berperan sebagai penyelesai masalah yang timbul dalam rumah tangga maupun masalah suami saya.
Tipe 2. Model hubungan mendukung, seperti ayah dan koleksinya
Apakah Anda pernah menemui laki-laki yang begitu membanggakan istri atau pacarnya? Dalam berbagai kesempatan laki-laki tersebut ingin agar istri atau pacarnya tampil sempurna supaya bisa dipertontonkan pada orang lain. Mereka merasa bangga memiliki seorang istri yang tampil menawan. Sang istri atau pacar diperlakukan seperti layaknya benda koleksi.
Biasanya laki-laki yang terlibat dalam pola hubungan mendukung adalah laki-laki yang materialistik alias sangat memuja pemerolehan materi. Mereka merasa puas dan bangga jika berhasil meraih sesuatu yang berharga dalam hidupnya, yang semuanya terkait dengan prestise di mata orang lain, misalnya harta, jabatan, kekuasaan dan bentuk-bentuk materi lainnya. Biasanya mereka juga sangat serius dalam menjalani hidup.
Perempuan yang terlibat dalam pola hubungan ini biasanya berkeinginan untuk menarik perhatian dari sebanyak mungkin laki-laki. Mereka merasa puas jika berhasil menarik perhatian banyak laki-laki. Kadang mereka sampai bertingkah laku genit. Dalam bahasa populer, mereka bertingkah seperti ‘mengundang’ laki-laki. Akan tetapi biasanya mereka tidak tertarik pada laki-laki yang digodanya. Mereka hanya ingin menggoda saja.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan mendukung. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan mendukung ini.
Jika Anda pihak laki-laki
- Saya merasa sebagai orang yang berhasil pada saat orang-orang terkagum-kagum dengan penampilan istri saya.
- Saya merasa marah jika istri saya tidak menjaga dirinya dengan baik karena itu sama artinya dengan tidak menjaga nama baik saya.
- Saya selalu ingin mengenalkan istri saya pada setiap orang pada saat dia tampil menawan. Tapi saat dia tampil buruk, saya ingin menyembunyikannya.
Jika Anda pihak perempuan
- Saya merasa bangga jika saya menjadi pusat perhatian dalam suatu acara. Saya sungguh ingin diperhatikan oleh sebanyak-banyaknya orang.
- Saya selalu ingin siapa pun tertarik pada saya.
- Saya merasa tersinggung dan sulit menerima jika orang tidak memperhatikan saya ketika saya berpenampilan menarik.
Pola 3. Model hubungan menantang, seperti si jalang dan si baik hati
Pola hubungan menantang adalah kondisi di mana satu pihak selalu berusaha komplain atau ngomel terhadap pasangannya sehingga berpotensi memicu timbulnya konflik. Akan tetapi pasangannya menolak untuk terlibat dalam konflik sehingga membiarkan saja komplain dan omelan itu. Secara umum, biasanya pihak perempuan adalah pihak yang melakukan komplain atau ngomel. Sebaliknya pihak laki-laki bertindak sebagai si baik hati.
Jika Anda laki-laki dan memiliki pasangan yang suka komplain, sering protes dan sering ngomel-ngomel terhadap Anda, sedangkan Anda hanya diam saja tidak menanggapinya, baik karena Anda berharap agar masalah segera berlalu atau cuek karena tahu toh nanti akan reda dengan sendirinya, maka Anda benar-benar sedang terlibat dalam pola hubungan menantang ini. Singkat kata, satu pihak menantang pihak lain tidak menanggapi.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan menantang. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan menantang ini.
Jika Anda pihak si baik hati (umumnya laki-laki)
- Si dia berhak ngomel-ngomel pada saya karena saya pasangannya.
- Saya rasa sudah sewajarnya jika perempuan suka komplain dalam segala hal
- Saya hanya perlu mendengarkan protes pasangan saya. Nanti juga akan reda.
Jika Anda pihak penantang (umumnya perempuan)
- Saya selalu ingin segala sesuatunya berjalan seperti yang saya inginkan
- Saya sulit menerima jika ada sesuatu yang tidak semestinya. Saya harus segera memperbaikinya dengan komplain sesegera mungkin.
- Saya merasa sah dan berhak untuk protes jika ada hak-hak saya yang dilanggar.
Pola 4. Model hubungan mengontrol, seperti tuan dan budaknya
Inilah pola hubungan antara laki-laki dan perempuan yang umum dijumpai dalam masyarakat. Pihak laki-laki bertindak sebagai tuan besar. Pihak perempuan bertindak sebagai budak yang melayani sang tuan besar. Laki-laki berperan penuh mengontrol hubungan. Mereka dominan. Boleh dibilang, secara tradisional hidup pihak perempuan didedikasikan untuk melayani laki-laki.
Sebutan kepala keluarga yang disematkan kepada pihak laki-laki menegaskan adanya tipe hubungan budak-tuan ini. Laki-laki pihak yang mengatur, perempuan harus menurut. Pola hubungan ini begitu tepat digambarkan oleh sebuah lirik lagu ciptaan komponis Ismail Marzuki tahun 40-an dulu, ‘..wanita dijajah pria sejak dulu..’. Begitu juga sangat tepat digambarkan dalam sebuah prokem jawa, “swargo nunut, neraka katut”. Artinya, sang istri akan ikut suami ke surga, pun akan terbawa jika suami pergi ke neraka.
Akan tetapi, tidak selalu pihak laki-laki yang dominan. Pada sebagian hubungan, pihak istri yang dominan. Istri yang mengatur dan mengontrol hubungan. Apakah Anda ingat lelucon populer dari singkatan ISTI? Singkatan itu bukan berarti Institut Seni Tari Indonesia tapi Ikatan Suami Takut Istri? Lelucon tersebut menggambarkan suami-suami yang dikontrol oleh istrinya.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan mengontrol. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan mengontrol ini.
Jika Anda mengontrol (umumnya laki-laki)
- Adalah kewajiban saya sebagai kepala rumah tangga untuk mengatur kehidupan rumah tangga saya sebaik-baiknya.
- Saya sulit menerima jika saya disuruh-suruh oleh pasangan saya. Tapi saya merasa baik-baik saja menyuruhnya melakukan sesuatu untuk saya.
- Saya ingin hubungan cinta saya berjalan sesuai dengan yang saya inginkan.
Jika Anda dikontrol (umumnya perempuan)
- Saya merasa sudah kewajiban saya untuk menuruti perkataan pasangan saya. Saya percaya dia akan melakukan yang terbaik untuk saya.
- Saya jarang ikut memutuskan apa yang akan kami lakukan bersama.
- Saya tidak tahu rencana pasangan saya untuk masa depan kami. Dia tidak pernah mendiskusikannya bersama saya.
Pola 5. Model hubungan konfrontatif
Pola hubungan ini dicirikan adanya suasana kompetisi antar pasangan. Masing-masing pihak berusaha mengalahkan pihak lain. Keduanya berusaha membuktikan diri bahwa diri mereka yang memegang dominasi dalam hubungan. Jika yang satu dirasakan terlalu mengatur, maka yang lain akan berusaha menekan dan mengatur balik. Akibatnya, hubungan mereka penuh ketegangan.
Biasanya masing-masing pihak sangat khawatir diri mereka tidak lagi dicintai oleh pasangannya. Pun mereka sangat khawatir akan disakiti pasangan. Oleh sebab itulah mereka berusaha menunjukkan bahwa diri mereka lebih mendominasi hubungan. Mereka berharap tidak akan tidak dicintai dan tidak akan disakiti jika terkesan mendominasi hubungan. Sebab, biasanya pihak yang dominan yang bisa menyakiti pasangan. Dengan menjadi dominan, mereka merasa mendapat jaminan diri mereka tidak disakiti. Sayangnya, pasangan juga berpikir serupa. Akibatnya terjadi persaingan untuk menjadi dominan.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan konfrontatif. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan konfrontatif ini.
- Bagi saya, daripada ditinggalkan lebih baik meninggalkan
- Saya sulit menerima pasangan saya lebih baik dari saya. Jadi, saya memang harus lebih baik darinya
- Saya atau pasangan selalu membandingkan apa yang kami raih.
- Saya tidak ingin kalah darinya dalam hal apa pun, termasuk penghasilan. Jika kalah, saya hanya akan dijadikannya pembantu.
- Saya merasa sangat senang jika berhasil membuatnya mengaku tidak bisa sebaik saya
- Saya tahu jika saya menjadi lebih baik darinya, maka dia tidak mungkin akan berpaling dari saya
Pola 6. Model hubungan akomodasi
Dalam pola hubungan ini terjadi akomodasi antar pasangan. Masing-masing berupaya sebisa mungkin agar pasangan merasa memperoleh apa yang mereka butuhkan. Meskipun marah dan sakit hati, mereka cenderung berpura-pura menunjukkan rasa cinta yang mendalam pada pasangannya. Jadi, di satu sisi sakit hati dan rasa marah ditunjukkan, di sisi lain tetap berusaha memperlihatkan rasa setia dan perhatian.
Para pelaku hubungan pola ini sangat memuja keharmonisan hubungan dan cinta. Itu sebabnya mereka cenderung berpura-pura selalu memilikinya meskipun sebenarnya tidak. Mereka rela berpura-pura agar tetap dianggap setia, masih cinta, dan merasa bahwa hubungan baik-baik saja.
Berikut beberapa pernyataan yang menggambarkan pola hubungan akomodasi. Jika pernyataan tersebut sesuai dengan gambaran diri Anda, maka boleh jadi Anda sedang terlibat dalam pola hubungan akomodasi ini.
- Saya harus membuat hubungan ini harmonis dan baik-baik saja, jadi lebih baik jika saya tidak usah mempersalahkannya atas masalah yang ditimbulkannya.
- Saya adalah pasangan yang suportif, jadi meskipun dia telah menyakiti saya, saya tetap harus menghormatinya
- Saya merasa sedikit tidak bahagia, tapi tidak masalah selama tidak ada konflik antara saya dan pasangan saya
- Jika pasangan saya ingin bermesraan, saya pasti akan menurutinya meskipun sebenarnya hati saya tidak ingin melakukannya.
- Saya selalu berusaha mengikuti semua kemauannya agar si dia senang.
- Saya tahu kalau saya bisa selalu berupaya agar pasangan saya memperoleh apa yang dibutuhkannya maka hubungan kami akan baik-baik saja.

